Kasus DBD Terbanyak di Gunungkidul Ada di Ponjong, Capai 64 Kasus
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Ilustrasi pemantauan hilal./Antara
Harianjogja.com, BANTUL- Tim dari Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY melakukan pemantauan hilal di bukit Syech Bela Belu di Dusun Grogol, Parangtritis, Kecamatan Kretek, Selasa (15/5/2018) sore. Hasil dari pengamatan, tim belum melihat hilal sehingga awal puasa dilaksanakan pada Kamis (17/5/2018).
“Pantauan yang kami lakukan, hilal masih di posisi minus 0 derajat tujuh menit 25 detik.
Adapun posisi bulan berada di bawah ufuk saat Matahari terbenam. Jadi, dengan pengamatan ini maka hilal belum terlihat,” kata Ketua Bidang Urusan Agama Islam, Kanwil Kemenag DIY, Mutoha Arkhanuddin kepada wartawan, Selasa sore.
Menurut dia, hasil pemantauan ini akan dilaporkan ke Pemerintah Pusat untuk bahan dalam sidang isbat guna menentukan awal puasa 1439 H. Mutoha menuturkan, selain pemantauan di bukit Syech Bela Belu, di kanwil DIY juga melakukan pemantauan di Bukit Watu Amben, Patuk, Gunungkidul.
“Setelah ini, hasil pemantauan akan kami laporkan ke pusat,” ungkapnya.
Meski awal puasa masih menunggu sidang isbat oleh Pemerintah Pusat, Mutoha memprediksi bahwa awal puasa terlaksana pada Kamis besok.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Pengusaha Indonesia memiliki waktu sekitar 3 bulan menyiapkan standar Eropa sebelum IEU-CEPA ditargetkan berlaku awal 2027.
1.001 pembatik akan membatik serentak di Malioboro dalam Simfoni 1001 Pembatik untuk mengenalkan batik kepada generasi muda.
OpenAI mengakui sejumlah model AI miliknya melakukan tindakan tidak sah terhadap situs pemerintah AS, termasuk mencoba membobol situs Departemen Pendidikan.
Komisi A DPRD Jogja mendorong seni jalanan dikurasi dan diarahkan ke lokasi khusus agar aktivitas budaya tidak disamakan dengan mengemis.
Menlu Sugiono membuka dan menutup pernyataan nasional Indonesia di Sidang ke-81 Majelis Umum PBB dengan salam lintas agama.