Selasa Siang, Aktivitas Kegempaan Merapi Menunjukkan Penurunan

Salsabila Annisa Azmi
Salsabila Annisa Azmi Selasa, 22 Mei 2018 15:37 WIB
Selasa Siang, Aktivitas Kegempaan Merapi Menunjukkan Penurunan

Petani mengamati keindahan Gunung Merapi dari areal persawahan di Wukirsari, Sleman, Selasa (22/5/2018). /Harian Jogja-Desi Suryanto

Harianjogja.com, JOGJA - Balai Penelitian Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memaparkan kondisi terkini dari Gunung Merapi dengan rekaman data terakhir Selasa (22/5/2018) pukul 12.00 WIB.

Dari hasil tersebut dipaparkan tidak ada peningkatan aktivitas berarti kecuali suhu pusat kawah yang masih di atas batas normal.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso mengatakan gempa guguran yang pada 21 Mei 2018 terjadi sebanyak tiga kali, sampai pukul 12.00 WIB terjadi hanya satu kali.

"Kemudian kemarin ada gempa vulkatektonik sekali, saat ini belum terjadi," kata Agus saat jumpa pers singkat di kantor BPPTKG, Selasa (22/5/2018). Agus menambahkan gempa tektonik yang kemarin terjadi sebanyak tujuh kali, saat ini hanya terjadi satu kali.

Sementara dari parameter visual, BPPTKG masih mendapati suhu pusat kawah yang tinggi yaitu 75 derajat celcius. Adapun batas normal suhu adalah 40 derajat celcius. Agus mengatakan peningkatan suhu terjadi sejak letusan freatik pada 17.50 kemarin. Hal tersebut menunjukkan masih ada tekanan gas yang cukup kuat di dalam Gunung Merapi.

Selain itu BPPTKG juga menguji dari parameter geokimia menggunakan alat pengukur emisi SO2 atau fumarol yang keluar dari puncak.

"Hasilnya sampai kemarin levelnya rendah. Kadarnya sekitar 90 ton per hari. Kalau letusan kemarin tanggal 11 Mei emisi SO2 nya 300 ton per hari. Jadi hari ini, dari sisi geokimia, ini normalnya merapi," jelas Agus.

Sementara itu untuk analisi material abu yang mirip material 2010 akan dilakukan pengujian lebih jauh lagi. Agus mengatakan apabila ternyata material abu tersebut resmi dinyatakan sama dengan material 2010 dan tidak ditemukan elemen glass, maka kemungkinan potensi magmatik bisa lebih kecil.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online