Kekeringan di Depan Mata, Desa di Gunungkidul Malah Kebingungan

Jalu Rahman Dewantara
Jalu Rahman Dewantara Minggu, 03 Juni 2018 06:50 WIB
Kekeringan di Depan Mata, Desa di Gunungkidul Malah Kebingungan

Ilustrasi warga mengambil air di sumber mata air karena kekeringan./Harian Jogja-Kusnul Isti Qomah

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Sejumlah desa di Gunungkidul kebingungan menghadapi ancaman kekeringan pada musim kemarau tahun ini lantaran ketiadaan anggaran. Kalau pun tersedia anggaran, jumlahnya dinilai sangat terbatas.

Kepala Desa Tileng Kecamatan Girisubo, Supriyadi mengungkapkan hingga hari ini belum ada rencana antisipasi kekeringan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) untuk membeli air bersih. "APBDes kami tidak untuk itu [penanggulangan kekeringan]," ungkap Supriyadi, Sabtu (6/2).

Supriyadi justru berharap ada dana khusus penanggulangan kekeringan di luar APBDes dari pemerintah atau swasta. Menurut dia, tidak dianggarkannya dana penanganan kekeringan dari APBDes karena minimnya pendapatan Desa Tileng.

"Kami terbatas dana sehingga masih bingung untuk lakukan antisipasi [kekeringan]. Namun biasanya kalau ada orang yang ingin membantu maka kami akan lakukan koordinasi dengan mereka baik itu dari pemerintah maupun swasta," jelasnya.

Terkait kondisi kekeringan tahun ini, Supriyadi mengaku sudah mendapat sejumlah keluhan dari warga. Bahkan dia sendiri mengklaim sudah membeli lima tangki air bersih dalam beberapa bulan terkahir. Pembelian air karena debit mata air di Desa Tileng mulai berkurang, sementara kebutuhan air terus bertambah.

"Salah satunya bagi yang punya ternak seperti saya. Kebetulan saya ternak sapi, dan satu sapi menghabiskan sekitar 20 liter per hari. Dihitung saja nanti bakal boros air seperti apa," kata dia.

Sementara itu pemerintah Desa Melikan, Kecamatan Rongkop memilih menggunakan dana APBDes untuk membeli air bersih guna menghadapi kekeringan. Desa Melikan tahun lalu tercatat sebagai salah satu wilayah di Gunungkidul yang mengalami kekeringan parah. Beberapa warganya bahkan menjual harta benda untuk membeli air bersih.

"Atas hal itu [pengalaman tahun lalu] kami sudah menganggarkan dana dari APBDes untuk membeli 30 tangki air," ujar Kepala Desa Melikan, Kartina. Alokasi dana untuk antisipasi kekeringan di wilayahnya sebanyak Rp3,9 juta.

Namun Kartina mengaku dana tersebut hanya mampu membeli 30 tangki air, jumlahnya jauh dari cukup. Pasalnya desa ini memiliki 13 dusun yang harus dibantu. Idealnya pemerintah desa membutuhkan minimal 50 tangki air.

"Jika harus menambah dana dari APBDes, hal itu tidak mungkin, karena dana APBDes sudah dialokasikan untuk keperluan lainnya," jelas Kartina. Kartina berharap kemarau tahun ini tidak berlangsung lama sehingga bencana kekeringan parah seperti tahun lalu tidak terulang kembali.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online