Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Rumah terancam longsor akibat abrasi di bantaran Sungai Oya di Desa Sriharjo, Imogiri, Senin (25/6/2018)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, BANTUL --Dampak Badai Cempaka yang terjadi di akhir November 2017 lalu masih meninggalkan sisa. Salah satunya terlihat di kawasan Sungai Oya, Desa Sriharjo, Imogiri. Hingga sekarang abrasi sungai yang hampir mengenai perumahan warga belum tertangani dengan baik karena belum ada tanda-tanda akan diperbaiki.
Salah seorang warga Sriharjo, Sutarno berharap agar kerusakan yang terjadi akibat banjir bandang di akhir tahun lalu bisa segera diperbaiki. Menurut dia, hingga saat ini upaya pemulihan belum berjalan optimal karena sejumlah titik masih dibiarkan rusak.
“Harapannya segera diperbaiki karena jika sampai musim hujan lagi kerusakannya bisa tambah parah,” katanya kepada wartawan, Senin (25/6/2018).
Menurut dia, pascakejadian warga sudah kerja bakti untuk membersihkan sisa-sisa banjir. Hanya, untuk yang berkaitan dengan fisik berharap ada bantuan dari pemerintah. “Kami sudah berupaya, tetapi untuk bisa seperti semula [sebelum banjir] juga butuh bantuan dari pemerintah,” ujarnya.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak, Tri Bayu Aji saat dikonfirmasi Senin, mengakui penanganan pascabencana belum menyasar ke seluruh tempat. Dia berjanji tidak akan membiarkan sejumlah rumah di tepi Sungai Oya hanyut terbawa banjir.
Oleh karena itu, BBWS secepatya bakal menurunkan tim untuk melihat kondisi di lapangan sebelum langkah darurat diambil. “Harapannya pada musim penghujan mendatang rumah warga sudah aman disinggahi,” katanya.
Menurut dia, untuk penanganan Sungai Oya, sudah mengajukan ke Pemerintah Pusat. Namun dikarenakan keterbatasan anggaran, upaya pemeliharaan tidak terealisasi. “Kami tetap akan berusaha dan mudah-mudahan perbaikan bisa segera dilaksanakan,” ucapnya.
Anggota DPR My Esti Wijayanti mengaku sudah mendegar keluhan warga terkait longsor di sekitar bantaran Sungai Oya yang mengancam rumah warga. Dia berharap pemerintah baik itu kabupaten maupun provinsi bisa memberikan respons untuk perbaikan.
“Kalau belum ada anggaran di APBD murni, bisa dimasukkan ke APBD Perubahan. Yang terpenting, upaya perbaikan harus tetap dilaksanakan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
PSEL DIY ditargetkan mengolah 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 18-20 MW untuk sekitar 15.000 rumah.
KY memastikan seleksi hakim agung dan hakim ad hoc MA 2026 transparan. Publik bisa memantau proses dan memberi informasi rekam jejak calon.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 12 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Kereta pertama berangkat 05.05 WIB, tarif tetap Rp8.000.
PSEL Piyungan ditargetkan groundbreaking Desember 2026. Proyek senilai Rp2,5 triliun-Rp3 triliun ini mulai dibangun Januari 2027.
Polisi menyiagakan puluhan personel setelah massa membakar sejumlah kantor pemerintah di Ilaga, Puncak, Papua Tengah.