Kampus di Jogja Merugi Gara-Gara Terima Mahasiswa Baru Melebihi Kuota

Sunartono
Sunartono Kamis, 02 Agustus 2018 06:17 WIB
Kampus di Jogja Merugi Gara-Gara Terima Mahasiswa Baru Melebihi Kuota

Ilustrasi ujian masuk PTN./JIBI

Harianjogja.com, BANTUL - Minat masyarakat untuk masuk ke perguruan tinggi pariwisata terus meningkat. Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (Stipram) Yogyakarta terpaksa menerima jumlah mahasiswa melebihi kuota meski harus menanggung kerugian di kemudian hari.

Sebanyak 1.500 lebih mahasiswa baru di kampus ini mengikuti kegiatan pengenalan kampus, Rabu (1/8/2018).

Ketua Stipram Suhendroyono menjelaskan, tahun akademik 2018/2019 ini kampusnya menerima lebih dari 1.500 mahasiswa yang diseleksi dari 3.000 pendaftar. Jumlah itu meningkat 15% dari tahun sebelumnya dan melebihi dari target 1.200 mahasiswa.

Awalnya sudah menarget agar tidak lebih dari 1.200, namun tidak bisa menolak karena banyak yang mendaftar sistem online dan pembayaran juga dilakukan secara online. Selain itu sebagai bentuk tanggungjawab kampus dalam mencerdaskan masyarakat.

"Kalau sudah ada bukti pembayaran kami terpaksa harus menerima karena dia lolos seleksi sebelumnya, saya sebenarnya sudah menutup sejak 1 Juli [2018], waktu itu sudah 1.204, ternyata mereka pada datang menyampaikan sudah registrasi," katanya, Rabu (1/8/2018).

Hendro mengaku meski jumlah mahasiswa bertambah banyak namun jika dihitung dari sisi bisnis justru merugi. Karena fasilitas yang tersedia hanya untuk 1.200 mahasiswa. Akibatnya, pimpinan terpaksa mengupayakan penambahan fasilitas termasuk menambah jumlah dosen sekitar 20 orang. Dengan demikian biaya operasional pun membengkak.

"Hitungan saya 1.200 itu bisnis maksimal dapat untuk sedikit, begitu naik ya turun lagi, dari sisi bisnis jumlah mahasiswa lebih 1.200 itu kami rugi, karena biaya modal dan operasional semakin banyak, harus menambah dosen," ucapnya.

Ia menambahkan, ada enam mahasiswa asing terdiri dari empat dari Serawak, Malaysia dan dua dari Thailand, mereka secara pribadi memilih belajar ilmu pariwisata di Stipram.

"Sekitar 65 persen mendaftar melalui jalur online, tesnya juga online berlapis tiga kali, ujian tulis dua kali dan sekalinya wawancara," ujarnya.

Ia mengatakan berdasarkan hasil wawancara dengan mahasiswa asal luar negeri, alasan memilih belajar pariwisata di Stipram karena memiliki kurikulum yang sudah terstandar bahkan di level sertifikasi pariwisata internasional.

Alasan lain, karena pariwisata di Indonesia belum tergarap dengan baik. Serta potensi pariwisata di Indonesia sangat tinggi sehingga ketika akan melakukan penelitian relatif murah.

Pria yang menjabat Ketua Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata (Hildiktipari) ini menegaskan tingginya minat masyarakat masuk ke perguruan tinggi. Karena pariwisata saat ini jadi andalan perekonomian dunia dan lepas dari persoalan politik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online