Harga Sedang Tinggi, Sekarang Saatnya Petani Tanam Kedelai

Herlambang Jati Kusumo
Herlambang Jati Kusumo Jum'at, 16 November 2018 22:50 WIB
Harga Sedang Tinggi, Sekarang Saatnya Petani Tanam Kedelai

Ilustrasi kedelai./Reuters

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Perawatan tanaman kedelai yang rumit, membuat petani belum bisa memaksimalkan pertanian kedelai meski harga jual yang terbilang tinggi.

Kepala Seksi Distribusi dan Perdagangan, Dinas Perindustrian dan perdagangan (Disperindag), Gunungkidul, Sigit Haryanto mengatakan bahwa harga untuk kedelai lokal terbilang cukup tinggi dibandingkan harga kedelai impor. “Untuk kedelai impor Rp 8.500/kg, kalau yang lokal sekitar Rp10.000/kg. Selisihnya cukup jauh beda,” ujarnya, Jumat (16/11/2018).

Ia mengungkapkan, perbedaan harga tersebut lantaran perbedaan jumlah stok di pasar dan kualitas. Sigit menyebut, untuk stok kedelai impor masih mencukupi dan dipastikan tidak ada kelangkaan.

“Kedelai impor stoknya masih banyak. Kalau kedelai lokal cukup berkurang karena banyak petani Gunungkidul menggunakan kedelai lokal untuk dijadikan benih,” ujarnya.

Terkait peruntukannya, kedelai impor banyak dimanfaatkan oleh pelaku industri sebagai bahan baku tempe dan tahu. Perbedaan harga yang cukup jauh tersebut disinyalir menjadi alasan para pengusaha memilih kedelai impor.

Sementara itu, Kepala Bidang Pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan jumlah produksi kedelai di Gunungkidul sendiri setiap tahunnya mengalami peningkatan. Namun demikian, pihaknya menyebut bahwa luas lahan untuk tanaman kedelai masih sangat kecil. “Tahun ini luasan sekitar 700 sampai 900 hektare saja. Setiap hektarenya mampu menghasilkan 1,4 ton hingga 1,7 ton atau total 1.200 ton,” katanya.

Ia mengatakan, minimnya minat tanam para petani sendiri lantaran sulitnya perawatan tanaman kedelai. Sebab, tanaman tersebut sangat rentan terserang hama. Masyarakat dinilai lebih memilih menanam kacang tanah yang lebih mudah, karena kedelai sangat rawan hama seperti lalat bibit, penggulung daun, penyakit bercak coklat, ulat daun dan ada juga pengisap polong.

Meski begitu, melihat potensi keuntungan yang menjanjikan, pihaknya pada tahun depan akan mendorong petani untuk menanam kedelai. Bahkan dinas menargetkan enam kali lipat dari tahun ini. “Paling tidak tahun depan sekitar 6.000 ton atau bisa 7.000 ton,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online