DPRD Gunungkidul Soroti Proyek Strategis yang Belum Jalan
DPRD Gunungkidul meminta lima proyek strategis senilai Rp17,3 miliar segera dilelang agar pengerjaan tidak molor.
Yono Torong, salah satu seniman dan pencipta lagu campursari asal Gunungkidul saat memperlihatkan koleksi CD yang berisikan lagu yang diciptakannya./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Perkembangan musik campursari harus terus dilestarikan. Keberadaannya saat ini sudah mulai kalah bersaing dengan musik elektone.
Salah satu keprihatinan ini disuarakan oleh Yono Torong, seniman sekaligus pencipta lagu capursari asal Dusun Trowono, Karangasem, Paliyan. Menurut dia, campursari merupakan kebanggaan warga Gunungkidul karena instrument ini dilahirkan oleh maestro musik Manthous.
“Keberadaan campursari meraih kejayaan pada saat almarhum [Mantahous] masih hidup, tapi sekarang gaungnya mulai berkurang,” katanya, Rabu (12/12/2018).
Yono menuturkan, musim campursari sekarang mulai terpinggirkan karena keberadan musik elektone. Makin berkurangnya antusiasme masyarakat terhadap campursari dapat dilihat dari pentas di lingkungan masyarakat sudah mulai jarang terlihat. Selain itu, grup musik campursari juga sudah jarang sekali terlihat.
“Meski bisa seperti campursari, tapi bagi saya elektone bukan campursari dan lebih ke jenis musik sendiri. Jujur, sekarang campursari sudah kalah dengan elektone,” ungkapnya.
Menurut dia, keberadaan campursari harus terus dilestarikan sehingga jenis musik ini terus dapat eksis. “Siapa lagi yang akan melestarikan, kalau bukan kita. Apalagi Gunungkidul sebagai tempat lahir campursari, jadi sudah seharusnya masyarakat bangga dan ikut melestarikan,” katanya.
Disinggung mengenai keberadaan campursari yang mulai terpinggirkan oleh elektone, Yono mengungkapkan hal ini terjadi karena musik elektone dinilai lebih ringkas. Sedang jika menghadirkan campursari, peralatan yang dihadirkan lebih banyak karena memadukan musik diatonic dan pentatonic.
“Sekarang lebih banyak yang suka dengan yang simpel sehingga tidak ribet,” katanya.
Salah seorang warga Wonosari, Yuwono mengakui pentas musik campursari sudah mulai jarang terlihat. Hal ini bisa dilihat dalam pentas hajatan warga yang lebih menampilkan hiburan musik elektone.
Menurut dia, kehadiran musik elektone dari sisi suara yang dihasilkan tidak kalah dengan musik campursari. Sedang di sisi peralatan lebih ringkas sehingga mudah dipindah kemana-mana.
“Satu lagi yang membuat warga memilih musik elektone, biaya sewa lebih murah ketimbang musik campursari yang asli,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul meminta lima proyek strategis senilai Rp17,3 miliar segera dilelang agar pengerjaan tidak molor.
Skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026 resmi dirilis. Phil Foden dan Cole Palmer tak masuk, ini daftar lengkap 26 pemain pilihan Tuchel.
Pemadaman listrik massal di Sumatera picu keluhan warga. PLN akui gangguan sistem, namun pelanggan soroti minimnya respons.
DPRD DIY ungkap persoalan serius perfilman Jogja, dari perizinan hingga perlindungan pekerja. Raperda disiapkan untuk menata industri.
Kemenko PMK dan TWC perkuat 10 sekolah di Sesar Opak lewat program SPAB. Momentum 20 tahun Gempa Jogja dorong budaya sadar bencana.
Apple uji iPhone 19 Pro dengan layar melengkung 4 sisi dan Face ID di bawah layar. Desain futuristik diprediksi hadir pada 2027.