Top Ten News Jogja 16 Mei 2026: Mandala Krida Dikaji, 32 Anak Divisum
Top Ten News Jogja 16 Mei 2026: Mandala Krida, 32 anak divisum, SPMB 2026, Waisak, hingga sapi kurban Presiden Prabowo.
Guguran lava pijar gunung Merapi terlihat dari Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (29/12/2018) dini hari. Berdasarkan data pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), pada Sabtu pukul 00.13 WIB terjadi guguran lava pijar Gunung Merapi dengan jarak luncur 400 meter ke arah hulu Kali Gendol./Antara-Aloysius Jarot Nugroho
Harianjogja.com, JOGJA—Laju pertumbuhan kubah Merapi sampai Februari ini masih rendah. Dengan rata-rata pertumbuhan 1.300 meter kubik perhari, butuh waktu lama bagi Merapi untuk mencapai tingkat erupsi yang membahayakan masyarakat.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementrian ESDM Kasbani mengatakan aktivitas Merapi saat ini masih dalam fase erupsi kecil. Kubah saat ini masih stabil meskipun beberapa kali terjadi guguran lava. “Awan panas yang muncul skalanya masih kecil. Ini karena pertumbuhan kubah juga relatif rendah,” kata dia di Kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja, Rabu (6/2/2019).
Jika laju pertumbuhan Merapi masih rendah, kemungkinan eruspi skala besar masih membutuhkan waktu lama. Kasbani membandingkan kondisi saat ini dengan erupsi pada 2010 lalu.
Sembilan tahun lalu, volume lava kubah di Merapi mencapai 10 juta meter kubik. Pertumbuhan kubah lava cukup cepat dan potensi awan panasnya juga besar.
Adapun saat ini volume lava Merapi baru mencapai 461.000 meter kubik. Proses erupsi efusif pun hingga kini masih berlangsung ditandai aktivitas vulkanik tinggi menyuplai magma.
“Kalau laju pertumbuhan lavanya masih seperti saat ini [rata-rata 1.300 meter kubik], perjalanan Merapi masih panjang. Tetapi ini tergantung dari proses di dalamnya. Memang tidak harus 10 juta meter kubik, tetapi tergantung dari stabil tidaknya kondisi kubah,” kata Kasbani.
Dia menyebut, awan panas yang muncul beberapa waktu lalu masih dalam radius aman. Pada November 2018 lalu, Kasbani sudah memperkirakan potensi munculnya awan panas atau wedhus gembel itu. Potensi itu muncul dengan perhitungan laju pertumbuhan kubah rata-rata 3.000 meter kubik per hari dengan jarak luncuran sekitar 2,2 kilometer ke Sungai Gendol.
Sementara awan panas yang tiga kali muncul pada 29 Januari lalu masing-masing mencapai 1.400 meter dengan durasi 141 detik, 1.350 meter dan durasi 135 detik dan 1.100 meter dengan durasi 111 detik.
“Jadi awan panas yang muncul masih di bawah radius yang kami rekomendasikan. Belum membahayakan warga karena kami telah mengeluarkan larangan aktivitas dengan radius 3 kilometer dari puncak,” katanya.
Meski begitu, dia belum bisa memastikan kapan erupsi Merapi sesungguhnya bisa terjadi. Saat ini, Merapi sudah memasuki masa erupsi sembilan bulan sejak 21 Mei 2018.
“Semua aktivitasnya masih di dalam radius rekomendasi kami. Karena [magma] dikeluarkan sedikit-sedikit kemungkinan aman,” ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Top Ten News Jogja 16 Mei 2026: Mandala Krida, 32 anak divisum, SPMB 2026, Waisak, hingga sapi kurban Presiden Prabowo.
Cek jadwal terbaru KRL Solo-Jogja Senin 18 Mei 2026 lengkap dari Palur sampai Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Fabio Di Giannantonio menangi MotoGP Catalunya 2026 yang dua kali dihentikan akibat kecelakaan beruntun di Barcelona.
BMKG memprediksi hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah DIY hingga 20 Mei 2026 akibat pengaruh fenomena MJO.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit melantik Kalemdiklat Polri, lima kapolda baru, dan satu pejabat utama Mabes Polri di Jakarta.
Balapan MotoGP Catalunya 2026 dua kali dihentikan setelah kecelakaan beruntun melibatkan Alex Marquez, Bagnaia, Zarco, dan Acosta.