Bus Sekolah Gunungkidul Belum Normal, Ini Penyebabnya
Layanan bus sekolah Gunungkidul belum kembali normal. Kenaikan BBM non-subsidi membuat enam rute belum melayani penjemputan siswa saat pulang.
Pelaksanaan sosialisasi germas di Dusun Gumbeng, Desa Giripurwo, Purwosari. Jumat (8/2/2019)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Warga masyarakat di Kabupaten Gunungkidul diajak untuk mengurangi konsumsi nasi dan memperbanyak makan sayuran. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan tubuh.
Ajakan untuk memperbanyak konsumsi sayuran diungkapkan oleh Seksi Penjaminan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, Wahyu Widi, saat menyosialisasi gerakan masyarakat sehat (germas) di Dusun Gumbeng, Desa Giripurwo, Kecamatan Purwosari, Jumat (8/2/2019).
Menurut Wahyu untuk saat ini porsi nasi yang dikonsumsi warga lebih banyak sehingga jumlah karbohidrat yang masuk juga lebih banyak. Kondisi ini jika tidak diantisipasi dapat menyebabkan kegemukan sehingga salah satu solusinya harus rajin bergerak dengan cara berolahraga. Untuk menjaga kesehatan warga diajak mengurangi nasi dan menambah jumlah sayuran yang dikonsumsi. “Untuk sayuran bisa apa saja, terutama memanfaatkan yang ada di sekitar rumah,” katanya kepada wartawan, Jumat.
Dia menjelaskan konsumsi sayur memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Selain memperlancar pencernaan, sayuran juga dapat berfungsi untuk menurunkan risiko terjangkit penyakit. “Jadi untuk gerakan sehat ini kami mengampanyekan agar mengurangi nasi dan memperbanyak makan sayur,” katanya.
Disinggung mengenai potensi penyakit di masyarakat, Wahyu menuturkan hasil kajian di 2018 menyebutkan di DIY didominasi penyakit tidak menular seperti kanker, hipertensi dan jantung. “Ketiga jenis penyakit ini harus diwaspadai dan bisa dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat serta rutin berolahraga,” katanya.
Salah seorang warga Desa Giripurwo, Sunarti, mengaku hingga saat ini nasi masih menjadi makanan pokok utama. Sedang untuk sayur mayur masih sebatas pelengkap. “Saya baru tahu lewat sosialiasi germas. Ternyata kalau kebanyakan makan nasi tidak baik untuk kesehatan,” katanya.
Sunarti mengungkapkan di dalam sosialisasi selain diajak menjaga pola makan warga juga diajak untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat. “Informasi yang diberikan sangat bermanfaat karena menambah pengetahuan kami dalam urusan kesehatan. Salah satunya kami diajari bagaimana menyusun menu makanan dengan gizi yang baik sehingga baik untuk kesehatan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Layanan bus sekolah Gunungkidul belum kembali normal. Kenaikan BBM non-subsidi membuat enam rute belum melayani penjemputan siswa saat pulang.
BKPM mengungkap lelang pengembangan sistem OSS senilai Rp26,46 miliar gagal karena tidak ada penyedia yang sanggup menyelesaikan proyek.
Polres Bantul menangkap dua pelaku pembobolan toko kelontong di Jambidan berbekal rekaman CCTV dan sidik jari. Kerugian korban mencapai Rp12,5 juta.
Dokter UI mengembangkan NAVI-HF berbasis AI untuk mendeteksi penumpukan cairan paru pada pasien gagal jantung dengan akurasi mencapai 86 persen.
UGM melantik 620 insinyur baru dan menekankan pentingnya etika profesi serta tanggung jawab moral di tengah pesatnya perkembangan AI.
Nobar Piala Dunia 2026 di Teras Malioboro dipadati ratusan warga dan berdampak positif pada omzet UMKM yang meningkat hingga empat kali lipat.