Revitalisasi 131 Sekolah Gunungkidul, DPRD Ingatkan Kualitas Bangunan
DPRD Gunungkidul mendukung revitalisasi 131 sekolah pada 2026. Dewan meminta kualitas bangunan dijaga dan mendorong penggunaan kayu jati warga.
Suasana di kawasan Embung Batara Sriten di Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar. Foto diambil belum lama ini./Istimewa/Dinas Pariwisata Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Embung Batara Sriten di Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar menjadi salah satu destinasi wisata di kawasan utara Gunungkidul. Lokasi embung ini merupakan puncak tertinggi di wilayah Bumi Handayani karena berada di ketinggian 859 meter di atas permukaan laut.
Lokasi yang tinggi membuat kawasan di sekitar embung sering tertutup kabut, khususnya setiap pagi dan sore hari. Tak hanya itu, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan Rawa Jombor di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, dan Waduk Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, secara bersamaan dari satu lokasi. Embung ini tak hanya menawarkan keindahan alam karena di sekitarannya juga dikembangkan agrowisata berupa tanaman buah mulai dari kelengkeng, durian, jeruk hingga avokad.
Adapun akses menuju embung sudah baik karena pada 2018 Pemkab Gunungkidul mengalokasikan anggaran hingga miliaran rupiah untuk perbaikan jalan. Meski demikian pengunjung harus berhati-hati karena jalan yang menanjak dan tikungan tajam sehingga rawan terjadi kecelakaan.
Sekretaris Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Batur Agung Rahayu (Batara) Sriten, Radata, mengatakan Embung Batara Sriten dibangun pada 2015. Hingga saat ini embung menjadi salah satu destinasi wisata di kawasan utara. Hal ini dibuktikan dengan tingkat kunjungan yang mencapai ribuan orang setiap bulan.
Menurut dia embung tidak hanya menawarkan keindahan alam karena pengunjung juga bisa menikmati Matahari terbit dan terbenam di satu lokasi. Selain itu pengunjung juga dapat menyaksikan hamparan kebun buah yang dirintis oleh masyarakat. “Buahnya banyak mulai dari kelengkeng, durian, jeruk hingga avokad. Namun untuk sekarang yang berbuah baru jeruk dan avokad, untuk tanaman buah lainnya masih pemeliharaan,” katanya kepada Harian Jogja, Kamis (28/2/2019).
Untuk lebih mengenalkan destinasi di Embung Batara Sriten, pokdarwis rutin menggelar Festival Sriten. Di dalam festival ini tidak hanya menampilkan atraksi seni dan budaya, tetapi juga kegiatan olahraga paralayang. “Sriten menjadi lokai favorit bagi penyuka paralayang karena angin yang berembus stabil sangat cocok mendukung pengembangan olahraga ekstrem ini,” kata Radata.
Kepala Bidang Pemasaran dan Bina Usaha Dinas Pariwisata Gunungkidul, Yuni Hartini, mengatakan keberadaan Embung Batara Sriten bisa menjadi destinasi alternatif bagi pengunjung yang ingin melihat destinasi wisata selain pantai di Gunungkidul. Menurut dia embung ini tak kalah dengan destinasi lain karena juga menawarkan keindahan alam yang sangat menarik. “Potensinya akan kami kembangkan dan promosikan karena keberadaannya menambah variasi wisata di Gunungkidul sehingga ada pemerataan destinasi baik yang ada di kawasan pesisir, tengah dan utara Gunungkidul,” kata Yuni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul mendukung revitalisasi 131 sekolah pada 2026. Dewan meminta kualitas bangunan dijaga dan mendorong penggunaan kayu jati warga.
Tren baju murah untuk foto liburan merebak di kalangan turis China. Pakaian lalu dibuang atau dijual kembali dan memicu isu limbah tekstil.
Power window mobil seret bisa disebabkan debu hingga karet aus. Kenali penyebab dan cara mengatasinya dengan silicone spray.
Nguyen Xuan Son cedera hamstring dan absen 4-6 pekan. Striker Vietnam itu harus mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026
Cek harga emas Antam, Galeri24 dan UBS di Pegadaian beserta harga buyback dalam berbagai ukuran, dari 0,5 gram hingga 1.000 gram.
Kata oke ternyata punya sejarah sejak 1839. Istilah OK pertama kali tercatat di Boston Morning Post sebagai singkatan jenaka.