Skema Droping Air di Gunungkidul Berubah, Kapanewon Jadi Prioritas
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Mi instan mocaf hasil inovasi Suti Rahayu./Istimewa
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Warga Dusun Sumberjo, Desa Ngawu, Kecamatan Playen, Suti Rahayu, membuat inovasi tepung mocaf atau tepung tapioka yang telah dimodidikasi menjadi mi instan cepat saji. Hasil kreasi ini tidak kalah dengan mi instan siap saji yang beredar di pasaran.
Saat ditemui wartawan beberapa waktu lalu, Suti mengatakan inovasi makanan berbahan tepung mocaf sudah dijalankan sejak 2012. Suka duka dalam berusaha ia telah jalan sehingga terus berkreasi agar makanan yang dipasarkan laku di pasaran. “Sekarang saya buat mi instan mocaf siap saji dalam bentuk gelas maupun dibungkus dengan plastik,” kata Suti, beberapa waktu lalu.
Menurut dia, ide pembuatan mi instan siap saji muncul sejak dua tahun lalu. Awalnya, ia hanya fokus membuat mi mocaf rebus, tapi karena melihat potensi pasar maka dia membuat mi cepat saji dalam bentuk cup atau gelas. “Semua penuh dengan tantangan, misalnya pernah gagal total karena produksi mi mocaf seberat 250 kilogram harus terbuang sia-sia. Tapi semua itu tidak membuat saya menyerah karena usaha dan kreasi terus dilakukan,” katanya.
Dia menjelaskan, untuk kreasi mi mocaf cepat saji sering berkonsultasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Playen. Hasil konsultasi dan diskusi dapat mempermudah dalam proses inovasi. “Setelah beberapa kali gagal, saya meminta masukan dari LIPI dan disarankan membuat dengan komposisi saya sendiri. Lalu saya coba kreasi dengan membuat mi tanpa bahan kimia dan ternyata berhasil,” katanya.
Menurut dia, ada tiga jenis mi instan yang diproduksi, yakni mi rebus tanpa bumbu, mi rebus dengan bumbu dan mi gelas yang dipasarkan Rp6.000 per satuannya. “Tinggal pilih karena ada juga beberapa varian rasanya,” katanya.
Untuk bahan baku, Suti mengaku mengambil dari wilayah penghasil mocaf di Gunungkidul seperti di Kecamatan Rongkop, Tanjungsari, Paliyan hingga Panggang. Adapun pemasaran tidak hanya di beberapa kota di Indonesia karena sudah ada orang dari Jepang yang berniat memasarkan di Negeri Sakura. “Usaha sudah berjalan dengan baik dan bahkan sekarang mulai kesulitan mendapatkan stok mocaf untuk bahan mi. Untuk penjualan Alhamdulillah setiap pekan banyak yang berkunjung,” ucapnya.
Salah seorang pembeli, Edo Nurgantara, mengatakan mi instan cup berbahan tepung mocaf mempunyai tekstur yang berbeda jika dibandingkan dengan mi instan biasa. Dari sisi tekstur, mi mocaf lebih kenyal, dan proses pemasakan membutuhan waktu yang lebih lama. “Kalau mi biasa cukup tiga menit, untuk mi mocaf harus lima menit. Untuk rasa tidak kalah dengan mi instan lainnya,” kata Edo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.
Jumlah menara telekomunikasi di Bantul capai 300 unit. Diskominfo sebut minat investasi mulai menurun seiring kebutuhan yang tercukupi.
X batasi unggahan hanya 50 per hari untuk akun gratis. Kebijakan ini dorong pengguna beralih ke layanan berbayar.
Jalan rusak menuju Gua Pindul Gunungkidul dikeluhkan warga. Perbaikan dijadwalkan Juli-Agustus namun belum menyeluruh.