Kasus Daycare Jogja, Sultan HB X: Harapannya Ini Pertama dan Terakhir
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Peserta mengikuti kelas HBC DInas Koperasi, UKM dan Nakertrans, Rabu (24/4/2019)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Koperasi Usaha Kecil Mikro Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Dinkop UKM Nakertrans) Jogja kembali membuka kesempatan kepada para pengusaha muda Jogja untuk mengembangkan kemampuannya. Melalui kegiatan bertajuk Home Business Camp (HBC) yang digelar di Hotel Ruba Graha, Mantrijeron, mulai Senin (22/4/2019) sampai Rabu (24/4/2019), Dinkop UKM Nakertrans berupaya memajukan dinamika UKM yang banyak ditekuni oleh generasi muda.
“Khusus untuk HBC, pesertanya dibatasi usia, yakni 18-28 tahun. Minimal telah memiliki usaha yang telah berjalan enam bulan,” ucap Kasi Pengembangan dan Pembinaan UKM, Laksmi Kuswandani, Rabu.
Dalam HBC, instansinya memberikan materi berupa dasar-dasar kewirausahaan, seperti jiwa kewirausahaan, manajemen keuangan, manajemen pembukuan, etika bisnis, dan pemasaran daring. Adapun pematerinya, kata dia, berasal dari kalangan praktisi dan beberapa peserta HBC angkatan sebelumnya. “HBC tahun ini sudah merupakan angkatan yang ke enam,” ucap dia.
Menurut Laksmi, adanya pelatihan semacam ini akan menambah mantap bagi pelaku usaha. Terlebih di HBC, mereka akan bertemu dengan teman-teman sesama pelaku bisnis yang bisa saling berbagi dan saling memotivasi perihal bisnis.
Setiap angkatan, HBC diikuti oleh 50 peserta dengan model bisnis yang berbeda-beda. Laksmi mengatakan dinasnya memang membebaskan peserta HBC berasal dari bisnis apapun. “Namun bisnis akan lebih mudah berkembang jika sesuai hobinya,” ucap Laksmi.
Salah satu peserta HBC, Rafi Fahrun Fahrurrozi, mengatakan kalau ia tertarik mengikuti HBC karena berniat mengembangkan bisnis yang telah ia jalankan selama setahun terakhir. Mahasiswa UII Semester delapan ini menjalankan bisnis produk berbahan kulit, seperti tas dan dompet.
Dalam mengelola bisnisnya, Rafi menggunakan pemasaran online dan dari mulut ke mulut. Sejauh ini, ia masih menggunakan Instagram sebagai media untuk berjualan. Namun ke depan, ia berencana ingin mengembangkan jualannya di marketplace seperti Shopee dan Bukalapak.
Bisnis yang ia lakoni pun terbilang masih rintisan. Pasalnya dia berproduksi hanya berdasarkan order. Dalam sebulan dia mengaku setidaknya bisa menerima 10 pesanan. “Produk saya jual mulai dari Rp30.000 untuk gantungan kunci, hingga sekitar Rp300.000 untuk tas,” ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Penyintas KDRT di Salatiga memilih bercerai demi anak setelah bertahun-tahun mengalami kekerasan dan kini bekerja di luar negeri.
Bus sekolah Gunungkidul kembali melayani antar jemput sejak 7 September setelah Pemkab menyiapkan tambahan anggaran Rp270 juta.
Cidro Asmoro tayang 8 Oktober di bioskop. Film ini membawa konsep Jawanisasi Modern dengan musik, drama dan komedi.
Menhub Dudy Purwagandhi menyebut aturan impor KRL merupakan kewenangan Kemendag dan KAI belum mengajukan usulan resmi.
WIG 2026 resmi dibuka di Solo. Solo dan Jogja menjadi pusat rangkaian untuk membawa gastronomi Indonesia menuju pengakuan global.