Warga menutup sinar matahari yang menyinari muka saat matahari bersinar terik di musim kemarau. /Harian Jogja-Nina Atmasari
Harianjogja.com, JOGJA - Warga DIY menghadapi cuaca panas, beberapa hari terakhir.
Pakar Iklim Universitas Gadjah Mada (UGM), Emilya Nurjani pada Jumat (26/4/2019) menyebutkan, suhu di DIY saat ini mengalami kenaikan hingga kisaran 31 derajat Celcius. Sementara di hari-hari biasa suhu hanya berkisar pada 29 derajat Celcius.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi cuaca panas dalam beberapa hari terakhir. Salah satunya disebabkan posisi matahari yang dekat dengan ekuator. Sehingga membuat daerah di sekitar ekuator menjadi lebih panas.
"Saat ini Matahari ini sudah bergeser ke belahan bumi utara, seharusnya suhunya lebih rendah," ucapnya, Kamis (25/4/2019).
Akademisi Departemen Geografi Lingkungan Fakultas Geografi UGM tersebut menambahkan, cuaca panas juga dipengaruhi oleh angin monsoon Asia. Angin ini membawa banyak uap air yang mengakibatkan potensi pembentukan awan semakin besar.
Selanjutnya, awan-awan yang terbentuk tersebut, menghalangi radiasi atau panas matahari yang seharusnya dilepaskan ke atmosfer. Suhu dari panas matahari yang diserap bumi dan dipantulkan ke atmosfer terhalang untuk dilepaskan, karena masih banyak tutupan awan. Akhirnya panas Matahari balik lagi ke bumi sehingga suhu Bumi menjadi naik.
Menurut dia, fenomena suhu panas ini akan terus dihadapi masyarakat DIY. Terlebih seiring dengan penggunaan lahan yang semakin massif. Suhu akan terus meningkat apabila tutupan lahan semakin berkurang.
"Daerah perkotaan dengan bangunan beton menjadi kawasan yang menyumbang panas. Sebab memiliki material yang mudah menyimpan panas," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.