Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Ilustrasi./Solopos-Ardiansyah Indra Kumala
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul memastikan jumlah sapi yang mati akibat penyakit antraks bertambah satu ekor. Hasil ini diketahui dari uji laboratorium Balai Besar Veteriner Wates. Dengan tambahan ini, jumlah sapi yang terpapar antraks menjadi dua ekor.
Meski jumlah sapi yang terkena antraks bertambah, DPP memastikan penyebaran belum sampai ke wilayah lain karena temuan kasus masih di wilayah Dusun Grogol IV, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.
Kepala DPP Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan tambahan satu ekor sapi yang positif antraks berdasarkan hasil uji sampel dari Balai Besar Veteriner Wates. Hingga saat ini DPP masih menunggu hasil uji tiga sampel lainnya yang belum keluar.
“Sejak dugaan muncul ada lima sampel yang kami ambil, tapi hingga saat ini baru keluar dua dan hasilnya positif antraks. Untuk tiga sampel lainnya belum keluar,” kata Bambang saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/6/2019).
Menurut dia, tambahan kasus ini bukan menjadi masalah. Pasalnya, sejak kasus ini mencuat DPP Gunungkidul terus berupaya mencegah agar penyebaran penyakit tidak meluas. “Selain mengambil sampel di titik sumber penyakit kami juga melakukan pemeriksaan di daerah lain seperti Pasar Hewan Siyono, Kecamatan Playen, wilayah Kecamatan Nglipar, Semanu dan Ponjong. Dari uji sampel, semua negatif sehingga dipastikan penyebaran antraks belum sampai ke kecamatan yang lain,” katanya.
Bambang menuturkan untuk upaya pencegahan DPP Gunungkidul menyuntik hewan ternak dengan antibiotik, terutama ternak yang berada dalam radius satu kilometer dari Dusun Grogol IV. Selain itu, di titik-titik suspect juga dilakukan penyemprotan dan penyiraman cairan formalin 10% untuk membunuh bakteri spora antraks. “Penyuntikan dan penyemprotan terus dilakukan secara berulang. Dalam waktu dekat kami memberikan vaksin ke hewan ternak agar bebas dari antraks,” tutur mantan Kepala Dinas Kehutan dan Perkebunan Gunungkidul ini.
Kepala Seksi Kesehatan Veteriner DPP Gunungkidul, Retno Widiastuti, menambahkan hingga saat ini sudah ada 347 ekor sapi, 832 kambing dan sembilan ekor domba yang disuntik antibiotik. Untuk memaksimalkan pencegahan penyebaran antraks, hewan ternak ini akan diberikan vaksinasi.
Meski demikian, Retno mengakui pemberian vaksin membutuhkan tahapan, salah satunya sosialisasi berkaitan dengan dampak pemberian antibodi ini. Menurut dia, vaksin antraks dapat memberikan efek samping terhadap kesehatan hewan ternak. “Ini yang kami sosialisasikan karena apabila hewan yang divaksin dalam kondisi tidak sehat bisa sakit hingga mati. Jadi, sebelum vaksin dilakukan kami memberikan sosialisasi terkait dengan pemberian antibodi ke masyarakat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
BNN menangkap MR alias Bos Gendut, buronan pemilik 98 kg sabu di Kampung Bahari. Sejumlah aset dan barang bukti turut disita.
AIcosystem Buka Cara Baru dalam Mengelola Pengalaman Pelanggan hingga Pengembangan Asisten Virtual
Wacana pembatasan BBM subsidi menyasar desil 9-10. Simak cara cek desil DTSEN melalui situs Cek Bansos Kemensos dengan NIK.
Maroon 5 akan konser di Jakarta pada 5 Februari 2027. Simak harga tiket, jadwal presale, dan cara pembelian tiketnya.
KPK memeriksa mantan Dirut Bank BJB Yuddy Renaldi sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan iklan periode 2021-2023.