Antisipasi Penyebaran Antraks, Penyemprotan Formalin Dilakukan Berulang

Ilustrasi. - Solopos/Ardiansyah Indra Kumala
30 Mei 2019 20:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Hasil laboratorium dari sejumlah uji sampel di beberapa titik menyatakan baru satu lokasi yang positif antraks. Namun demikian, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul terus berupaya agar penyebaran tidak meluas. Selain terus memberikan vaksin terhadap hewan ternak milik warga, dilakukan penyemprotan ulang cairan formalin 10% di sekitar lokasi terpapar.

Kepala DPP Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan temuan kasus antraks sudah diprediksi sejak lama. Hal ini tidak lepas dari letak kondisi geografis Gunungkidul yang dikepung oleh wilayah endemik antraks mulai dari DIY, Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Oleh karena itu, kata Bambang, penyebaran antraks di Gunungkidul seperti bom waktu karena dapat muncul kapan saja. “Lambat laun pasti terjangkit dan prediksi dari Balai Besar Veteriner terbukti, kasus antraks ditemukan di Gunungkidul,” kata Bambang kepada wartawan, Rabu (29/5/2019).

Menurut dia, adanya kasus antraks di Dusun Grogol IV, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, jangan membuat masyarakat panik. Pasalnya, Pemkab berkomitmen agar penyebaran tidak semakin meluas atau penyakit menular ke manusia.

Upaya agar penyebaran tidak meluas sudah dilakukan dengan menyemprot cairan formalin 10% di sekitar lokasi terpapar. Hingga saat ini sudah ratusan ternak milik warga di Desa Bejiharjo diberikan vaksin antibiotik untuk meningkatkan kekebalan daya tahan tubuh hewan sehingga tidak mudah terserang penyakit.

Menurut Bambang, pencegahan ini tidak serta merta langsung berhenti. Pasalnya, pemberian vaksin maupun penyemprotan formalin dilakukan secara berulang. “Bakteri ini [spora antraks] bisa tahan di tanah selama 80 tahun. Jadi, agar tidak berkembang harus dimatikan dengan penyemprotan formalin secara berulang. Sepekan lalu penyemprotan dan vaksin sudah kami lakukan, rencananya segera kami ulang lagi,” kata Bambang.

Untuk mencegah penularan, DPP membentuk tim pengawas yang diterjunkan ke pasar-pasar hewan serta lokasi penyembelihan hewan di Gunungkidul. “Pengawasan dilakukan agar paparan penyakit tidak meluas. Selain itu, kami juga mengirim puluhan petugas untuk menjalani pelatihan di BB Veteriner Wates agar pemberian vaksin ke hewan secara benar serta tidak memberikan efek samping yang kurang baik terhadap kesehatan hewan yang disuntik,” katanya.

Bupati Gunungkidul, Badingah, berharap agar kasus antraks bisa ditangani dengan benar sehingga penyebarannya tidak semakin luas. Hal ini dibutuhkan agar ada kepastian hewan ternak asal Gunungkidul sehat dan aman dikonsumsi. “Sebentar lagi Lebaran dan Hari Raya Kurban, jangan sampai masalah ini merugikan masyarakat sehingga harus ditangani dengan benar,” katanya.