PRAJURIT PEREMPUAN DI GARDA DEPAN : Kartini 403 Siap Amankan Perbatasan

13 April 2013 06:39 WIB Sunartono Sleman Share :

[caption id="attachment_396401" align="alignleft" width="370"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/04/13/prajurit-perempuan-di-garda-depan-kartini-403-siap-amankan-perbatasan-396400/prajurit-tni-perempuan" rel="attachment wp-att-396401">http://images.harianjogja.com/2013/04/prajurit-TNI-perempuan-370x277.jpg" alt="" width="370" height="277" /> Serda Lisya Kumala Sari, Serda Rani dan Serda Indah saat berpose usai mengikuti apel pemberangkatan ke daerah perbatasan, di Yonif 403/Wirasada Kentungan, Jumat (12/4).
Foto JIBI/Harian Jogja/Sunartono[/caption]

Prajurit TNI AD Yonif 403/Wirasada Kentungan diberangkatkan bertugas di perbatasan Indonesia – Malaysia. Para pembela Negara itu tampak bersemangat dan tegas ketika beberapa perwakilannya menyalami Wakil Kepala Staff Angkatan Darat, Letjen TNI Moeldoko. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Sunartono.

Di antara 650 prajurit TNI AD yang mengemban tugas negara, ada empat wanita dari Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) yang juga bergabung. Mereka adalah Letda (CKM) Gita Yulia, Serda Lisya Kumala Sari, Serda Rani dan Serda Indah.
Keempat prajurit tersebut ditugaskan di perbatasan untuk masuk dalam tim territorial kesehatan pasukan. Gita Yulia sebagai dokter, sementara Lisya, Rani dan Indah sebagai perawat.

Tidak ada perbedaan dengan prajurit lainnya. Ketiga Kowad ini pun harus menjalani apel dengan berbagai bentuk atraksi identitasnya sebagai mana prajurit lain pria. Ia pun memegang senjata SS-1 buatan pindad dan mampu menggunakannya seperti prajurit lain.

“Iya ini untuk berjaga-jaga saja, memang harus bisa, semua bisa mempergunakan [senjata ini],” ujar Serda Lisya Kumala Sari saat ditanya Harian Jogja seusai mengikuti apel, Jumat (12/4).

Tidak ada perasaan canggung dan berat di wajah Lisya yang sudah tiga tahun bertugas di Kodam IV/Diponegoro ini. Ia tampak bersemangat dan bertekad untuk ikut berkontribusi secara nyata dalam menjaga keutuhan NKRI di daerah perbatasan. Lisya memahami bertugas di daerah terpencil seperti perbatasan memang tidak mudah. Tetapi ia menyadari konsekuensinya sebagai TNI dan tetap harus berangkat ketika pimpinan memanggil.

“Saya tiga tahun, kalau dua orang teman ini dua tahun sama tugasnya di Kodam IV. Baru kali ini akan mengikuti tugas di perbatasan, sebelumnya belum pernah berangkat. Kalau latihannya seperti biasa fisik mental seperti tentara lain tidak ada perbedaan,” imbuhnya.

Dengan sedikit antisipatif, Lisya mengatakan berusaha untuk mengetahui persoalan kesehatan yang kerap terjadi di daerah perbatasan. Ia mencontohkan seperti banyaknya masyarakat yang terserang alergi, gatal dan penyakit lain. Meski ia masuk dalam perawat internal pasukan namun sangat memungkinkan jika nanti juga memberikan pelayanan medis kepada masyarakat setempat.

“Tetap semangat demi menjaga nama Kodam IV Diponegoro,” ucapnya tegas.

Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Letjen TNI Moeldoko mengatakan penugasan kepada empat Kowad di perbatasan memang baru kali pertama di lakukan. Pertimbangannya kata dia, meski Kowad namun harus memiliki jiwa tempur yang terus terpelihara.

“Kali ini Kowad empat orang, satu perwira dokter, tiga prajurit sebagai perawat. Mereka diberangkatkan karena mereka juga kombatan jadi perlu kita latih untuk menghadapi situasi di daerah seperti itu [perbatasan] agar naluri tempur mereka sebagai seorang prajurit tetap terpelihara. Memang ini baru pertama kali,” ungkap dia.

Pasukan yang tergabung di Yonif 403/Wirasada tersebut, lanjutnya, akan diberangkatkan akhir bulan ini bertugas selama enam bulan di daerah perbatasan. Para prajurit ini bertugas melakukan pengamanan di perbatasan darat antara Malaysia dan Indonesia serta akan menangani sejumlah praktek ilegal yang kerap terjadi di perbatasan.

“Mereka juga akan menangani ilegal logging, narkoba, karena itu saya pesankan mereka mewaspadai semua itu, ilegang trading, penyeludupan gula dan lainnya,” pungkas dia.