Patung Otak Pernah Ditawar Rp50 Juta, Kini Tinggal Kenangan

04 September 2013 11:30 WIB Sleman Share :

[caption id="attachment_444123" align="alignleft" width="450"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/09/04/patung-otak-pernah-ditawar-rp50-juta-kini-tinggal-kenangan-444122/patung-otak" rel="attachment wp-att-444123">http://images.harianjogja.com/2013/09/patung-otak.jpg" alt="" width="450" height="329" /> Patung otak yang dibakar warga. (JIBI/Harian Jogja/Kurniyanto)[/caption]

Harianjogja.com, JOGJA—Tidak pernah dibayangkan Tri Haryanto jika karya instalasi patungnya bakal dibakar oleh sejumlah orang tak dikenal saat diletakkan di halaman panggung ketoprak Kelana Bhakti Budaya, dusun Balong Bayen, desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, Sabtu (31/8/2013), dini hari.

Bagi perupa jebolan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) angkatan 1996 itu, karya instalasi yang ia beri judul Kemana Otak Kita, menyimpan sejuta kenangan manis. Karya itu sempat dipajang dalam bursa seni rupa Art Jog 2008 silam.

"Karya itu saya buat khusus pertama kali untuk saya pamerkan dalam Art Jog 2008," katanya kepada Harian Jogja, Selasa (3/9/2013).

Walau terkesan menjijikkan bagi sejumlah orang, instalasi berwujud otak manusia berdimensi lebar tiga meter dan panjang dua meter ini sejatinya memiliki makna yang dalam. Tri mengatakan karya tersebut semacam metafora bahwa segala sesuatu yang dilakukan manusia entah perbuatan baik dan buruk selalu bermuara kepada otak. "Perbuatan yang dilakukan manusia pasti asalnya dari otak sehingga karya ini saya bikin," terangnya.

Karena memiliki pesan mendalam itulah, seusai pergelaran bursa seni rupa Art Jog 2008 berakhir ia berusaha menyimpan karya tersebut. Bahkan empat tahun kemudian, karya itu diikutsertakan dalam pameran bertajuk Panen Terakhir di areal persawahan Dusun Jeblog, Tirnonimolo, Kasihan, Bantul, akhir tahun lalu.

Hanya kala itu, ia mengganti instalasi patung itu dengan nama baru berjudul Menanamkan Menanam di Otak.

"Saya ganti nama karena tema pameran kala itu mengusung tema pertanian. Penamaan baru ini untuk mengajak manusia untuk kembali kepada pola hidup agraris," bebernya.

Dalam pameran yang berlangsung dari awal September hingga akhir Desember 2012 itu, karya instalasi patung Menanamkan Menanam di Otak sempat ditawar oleh kolektor seni rupa asal Singapura yang kebetulan datang berkunjung. "Mau dibeli Rp50 juta, tapi saya enggak kasih," terangnya.

Tri beralasan karyanya itu masih dibutuhkan sehingga ia menolak tawaran dari sang kolektor. Terlebih, kata dia, salah seorang rekannya yang juga senias film hendak mempergunakannya sebagai properti dalam pembuatan film. "Saya juga mau gunakan pameran di Parangkusumo," katanya.

Tri tak memungkiri kalau sesudah di pamerkan di Parangkusumo, ia berencana menghilangkan instalasi patungnya itu dengan cara membakarnya. Apalagi karyanya itu tergolong berukuran besar, sementara di rumahnya tidak memiliki ruang untuk meletakkan karya instalasi patungnya itu.

"Tapi sedihnya bukan saya seniman yang membakar tapi justru orang lain yang alasannya saya sendiri tidak tahu," ucapnya.

Menurutnya tindakan pembakaran itu tidak saja merugikan dari sisi materi namun juga menjadi bentuk kegagalannya dalam memperkenalkan seni rupa kepada masyarakat umum. Lebih ironis, karya patung instalasi miliknya itu justru diintepretasikan berbau mistis.

"Ini menjadi penanda kalau masyarakat disana tidak siap melihat karya seni rupa di tempat terbuka" ucapnya.

Bahkan, yang membuat sesak hatinya pembakaran terjadi wilayah DIY yang notabene diklaim sebagai kota seni dan budaya.

http://www.harianjogja.com/baca/2013/09/02/dituding-jadi-pemicu-kecelakaan-patung-otak-dibakar-443566" target="_blank">Instalasi patung Tri Suharyanto dibakar oleh sejumlah orang tidak dikenal di halaman panggung ketoprak Kelana Bhakti Budaya, dusun Balong Bayen, desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, Sabtu (31/8/2013), dini hari.

Pembakaran diduga kuat dilakukan karena instalasi patung miliknya itu diduga menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas bagi sejumlah warga yang melintas. Warga menilai patung ini memiliki aura mistis yang bisa membuat warga celaka.

Pembakaran patung berbahan dasar stereofom berbalut akrilik ini bermula pada awal Agustus lalu Risang Yuwono, salah seorang pengelola Ketoprak Kelana Bhakti Budaya meminjamnya sebagai properti pemotretan Roy Suryo (Menpora) dengan sang istri Ismarindayani Priyanti yang kala itu tengah datang berkunjung ke markas Kelana Bhakti Budaya.

Belakangan diketahui pemotretan batal dilaksanakan sehingga instalasi patung itu diletakkan di halaman panggung Ketoprak Kelana Bhakti Budaya hingga akhirnya dibakar sejumlah orang tidak dikenal.

Atas kejadian itu Tri lantas melaporkannya kepada Polres Sleman untuk segara diusut tuntas. “Minimal saya mengetahui motif pembakaran dan siapa pelakunya,” ungkapnya.