KEMARAU DI BANTUL : 9 Haktare Sawah Puso, 38 Hektare Terancam

17 September 2013 12:19 WIB Bantul Share :

[caption id="attachment_448306" align="alignleft" width="450"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/09/17/kemarau-di-bantul-9-haktare-sawah-puso-38-hektare-terancam-448305/kedelai-panen-di-sawah-nina-atmasari-2" rel="attachment wp-att-448306">http://images.harianjogja.com/2013/09/kedelai-panen-di-sawah-nina-atmasari.jpg" alt="" width="450" height="325" /> Ilustrasi kekeringan di sawah (JIBI/Harian Jogja/Nina Atmasari)[/caption]

Harianjogja.com, BANTUL—Areal tanam padi seluas 38 hektar padi di wilayah Kecamatan Dlingo terdampak kekeringan. Dari lahan seluas itu sudah sembilan hektare di antaranya dinyatakan gagal panen alias puso.

Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Bantul Sri Supatmi mengatakan 38 hektare lahan padi yang terdampak berada di Kecamatan Dlingo. Yakni di Desa Mangunan, Muntuk dan Terong.

“Kami sudah mendapat laporan itu dan akan segera kami tindak lanjuti secepatnya,” kata Supatmi kepada Harian Jogja di ruang kerjanya, Senin (16/9/2013).

Berbagai langkah akan dilakukan Dispertahut Bantul dalam waktu dekat. Salah satunya mendata anggota kelompok tani yang lahannya terancam dan mengalami puso.

Pihaknya akan mengupayakan bantuan penanggulangan padi puso akibat bencana ke Kementerian Pertanian untuk ganti rugi pembelian benih dan pupuk.

“Tentu ini pun kalau program bantuan pusat masih ada pada tahun ini. Yang jelas kami akan segera data dan inventarisasi petaninya dulu yang mengalami puso,” imbuhnya lagi.

Supatmi menambahkan ancaman kekeringan melanda sektor pertanian belum seluruhnya dilaporkan. Tercatat dari 17 kecamatan di Bantul area tanam padi per Agustus 2013 tercatat terdapat 1.785 hektare. Dari luas itu, tiga kecamatan produksi padi tiga kecamatan tidak optimal. Yakni Kretek, Dlingo dan Pajangan.