Kalanaru Theatre Movement Sajikan Kapai-kapai Ala Jawa

Ilustrasi pementasan teater (JIBI/Solopos - Dok.)
24 September 2013 12:54 WIB Jogja Share :

[caption id="attachment_450550" align="alignleft" width="370"]http://images.solopos.com/2013/09/teater-solopos1.jpg">Ilustrasi pementasan seni (JIBI/Harian Jogja/Solopos)http://images.solopos.com/2013/09/teater-solopos1.jpg" width="370" height="250" /> Ilustrasi pementasan seni (JIBI/Harian Jogja/Solopos)[/caption]

Harianjogja.com, JOGJA—Apa jadinya bila naskah Kapai-kapai karya Arifien C Noer dipentaskan menggunakan bahasa Jawa bukan bahasa Indonesia? Inilah yang akan dilakukan Kalanaru Theatre Movement saat tampil di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jl. Sriwedani pada 16-18 Oktober nanti.

Dalam pentas berdurasi selama 90 menit ini, Kalanaru Theatre Movement akan berkolaboroasi dengan pemain Sanggar Bangun Budaya asal, Dusun Sumber, Magelang, yang kesehariannya bersinggungan dengan seni tradisi.

"Kami sengaja memilih bahasa Jawa  supaya naskah itu bisa mudah diterima oleh segala lapisan masyarakat," kata Ibed Suyana Yuga, sutradara Kalanaru Theatre Movement, Senin (23/9/2013).

Hanya saja, penggunaan bahasa Jawa, kata Ibed bukan tanpa kendala. Pasalnya, tidak semua naskah asli Kapai-kapai bisa di ubah ke Bahasa Jawa. Ibed mencontohkan, kalimat cermin tipu daya yang dalam bahasa Jawanya sulit untuk dicari padanan katanya. "Namun, mau tidak mau kami harus mencarinya," ucapnya.

Naskah Kapai-kapai dibuat 1970 silam. Naskah yang pernah menjadi salah satu karya dalam antologi seratus tahun drama Indonesia ini dipilih Kalanaru Theatre Movement karena  menggambarkan potret sosial bangsa Indonesia saat ini. Dimana para pemimpin masih saja mementingkan syahwat politik kendati harus melukai rakyatnya.

"Harapannya, pentas ini bisa menjadi kontrol dan edukasi bagi penonton untuk kritis dengan kebijakan penguasa," katanya.

Ibed menyebut naskah yang ia mainkan ini sebagai bentuk gerakan budaya dalam menerapkan teater sebagai pintu masuk untuk mempelajari, mengintepretasi, lalu mempresentasikan kebudayaan suatu masyarakat.

Menurutnya, hal ini tidak banyak dilakukan kelompok teater di Jogja yang hanya menjadikan teater sebagai pertunjukan saja. "Karena teater bukan sekadar melakukan kerja namun jaga harus memiliki visi dan misi yang luhur dalam mengembangkan kebudayaan masyarakatnya," ucapnya.

Pentas Kapai-kapai secara garis besar berkisah tentang tokoh Abu yang berusaha mencari cermin tipu daya. Dengan segala cara ia berusaha mendapatkan cermin yang digambarkan mampui memberi kebahagiaan bagi siapa saja yang memilikinya.