ROYAL WEDDING NGAYOGYAKARTA : GKR Hemas Berat Melepas Hayu

19 Oktober 2013 17:59 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com-Gusti Kanjeng Ratu Hemas menyimpan sejumlah cerita unik mengenai perjuangan cinta Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro untuk mendapatkan GKR Hayu, sebagai pasangan sehidup-sematinya.

KPH Notonegoro atau Angger Pribadi Wibowo sudah dianggap Hemas seperti anaknya sendiri sekalipun baru resmi menjadi mantunya pada 22 Oktober mendatang. Boleh dikatakan mereka sudah tidak ada jarak lagi.

Sampai- sampai, ketika Angger putus dengan Abra, nama panggilan kecil GKR Hayu, ia mengeluarkan curahan hatinya kepada Hemas. “Pokoknya kalau saya tidak dapat Abra. Saya tidak akan menikah,” kata Hemas menirukan Angger kala itu.

Wakil Ketua DPD itu menceritakannya, saat menggelar jumpa pers persiapan Pernikahan Ageng di Kraton Kilen, Jumat (18/10/2013).

Mendengar Hayu dan Noto tak lagi berhubungan itu, ia turut sedih. Angger, bagi Hemas, adalah pribadi yang cocok untuk membimbing Abra meraih cita-citanya.

Abra, menurut Hemas, adalah satu dari sekian anaknya yang memiliki kelebihan. Sampai- sampai, Abra mengejar keinginannya bersekolah di bidang teknologi.

“Mereka juga cocok, karena sama-sama cuek," ujar Hemas. Maksudnya cuek adalah Hayu dan Noto tidak suka membicarakan orang atau ngerumpi.

Selama mereka tak saling berhubungan, Hemas mendengar, jika Angger berada di pondok pesantren di Kudus, Jawa Tengah. Angger berada di sana selama satu tahun. “Saya enggak ngerti kenapa. Mungkin dia mendoakan mertuanya supaya boleh,” ujar Hemas yang disambut gelak tawa para pewarta.

Hemas mengenang, dengan haru sekaligus senang melihat perjuangan Noto. Gurat wajahnya tak memperlihatkan, jika cerita itu harus disimpannya sendiri. Ia menceritakan dengan blak-blakkan. Terlebih, semenjak itu, Noto lalu rajin beribadah.

Gayung bersambut, setelah sekian tahun Noto dan Hayu menjalin hubungan asmara, Hemas belakangan baru tahu ternyata Angger adalah anak Raden Ayu Nusi Retnowati, temannya semasa duduk di Sekolah Menengah Pertama Tarakanita, Jakarta pada 1968.

“Jadi kalau kata teman- teman reuni, pernikahan GKR Hayu dan KPH Noto adalah perkawinan akbar Tarakanita,” tutur Hemas dengan gelak tawa.

Karena itu pula, Hemas kesulitan untuk membatasi undangan agar teman-teman lamanya itu juga dapat sekalian diundang untuk menghadiri pernikahan terakhir anak keempatnya tersebut.

Pagelaran Kraton, menurutnya, maksimal hanya mampu memuat tamu dengan jumlah undangan 1.500. Sehingga, kalau dipaksa, tamu bakal tidak nyaman.

Begitu juga di Bangsal Kepatihan, tempat resepsi, jumlah undangan yang sudah konfirmasi keberangkatannya sampai 2.000. “Ini kan terakhir, maunya semua diundang,” imbuhnya.

Melepas Hayu pun bagi Hemas tidak mudah, karena setelah menikah dengan Notonegoro, ia harus mengikuti kemana saja suaminya itu bertugas sebagai staf Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Meski pendiam, Hayu adalah anak yang paling perhatian dengan Hemas untuk urusan kesehatan. Hayu kerap mengontrol kesehatan ibunya yang jarang di rumah itu untuk melakukan tugasnya sebagai anggota DPD. “Terakhir, Hayu yang mendorong saya agar chek up jantung di Singapura,” katanya.

Pernikahan Hayu dengan Notonegoro, menurut Hemas, awalnya akan dijadikan satu dengan pernikahan GKR Bendara dan KPH Yudhonegoro pada Oktober 2011 lalu. Tapi Hayu belum mau, karena masih akan melanjutkan kuliahnya.

Hayu sebelumnya juga menolak untuk dilamar terlebih dahulu oleh Noto, karena dengan alasan yang sama. Selain itu, Hayu menunda pernikahannya juga karena belum mau berpisah jauh dengan orangtuanya.

Namun bagaimana pun juga, perasaan berat itu harus dipupusnya. Hemas mengaku bersama suaminya, Sri Sultan Hamengku Buwono X harus rela melepasnya.

Hemas berharap, setelah menikah Hayu dapat segera menyesuiakan dengan kehidupan baru. Ketika bersama, dia berpesan agar dapat saling berbagi untuk dapat mempertahankan biduk rumah tangganya.

“Perempuan sebenarnya adalah manajer rumah tangga. Keberhasilan keluarga ada di tangan perempuan,” tuturnya.

Di tengah acara jumpa pers, Sultan terlihat tergesa-gesa menuju mobil dinas berpelat merah AB 1. Ia tergesa untuk turut menghadiri kunjugan Presiden RI ke Museum Soeharto di Kemusuk, Sedayu, Bantul. Sultan meyerahkan urusan pernikahan itu ke panitian pernikahan.

Menikahkan anak, bagi Sultan, adalah sebuah tanggung jawab orangtua. Dia berharap, Hayu bahagia dengan pernikahannya itu. Hanya, ia pun berpesan agar Hayu dan Noto untuk tetap bertanggung jawab terhadap masa depan Kraton.

“Ketika ada upacara adat di Kraton kalau memang punya peluang datang, ya datang. Kalau tidak bisa ya tidak masalah,” ujarnya. Hal itu, tambahnya, mengingat Hayu setelah menikah, tinggal bersama dengan suaminya di Amerika Serikat sekaligus untuk meneruskan kuliah S2-nya.