Kerisauan Teater Lilin dalam Sampah Pemuda Sumpah Serapah

29 Oktober 2013 21:56 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Teater Lilin Universitas Atmajaya Jogja melakukan perayaan Sumpah Pemuda dengan cara menggelar pentas pantomim bertajuk Sampah Pemuda Sumpah Serapah, dimulai dari Jalan Malioboro hingga Gedung Agung, Jogja, Senin (28/10/2013) sore.

Aksi ini merupakan bentuk keprihatinan mereka dalam melihat makin mundurnya kepekaan pemuda dalam memaknai esensi dasar dari hari Sumpah Pemuda.

"Makin hari pemuda saat ini makin tidak perduli sama persoalan sosial, politik yang tengah dihadapi bangsa Indonesia. Pemuda saat ini justru terjebak dengan modernisasi di mana mereka menjadi begitu gandrung dengan gadget dan segala hal yang berbau pop hingga mereka akhirnya apatis terhadap persoalan di sekeliling mereka," kata Evan Kristianus, Pengurus Harian Teater Lilin yang juga merangkap sebagai manajer artistik Teater Lilin, saat ditemui Harian Jogja, Selasa (29/10/2013).

Evan mengaku risau dengan lunturnya kepekaan pemuda saat ini. "Sejak Indonesia dipimpin oleh Soekarno hingga kemudian Soeharto dan seterusnya, pemuda Indonesia terus mengalami kemunduran kepekaan," ucapnya.

Pentas pantomim yang dipusatkan di Kepatihan dan Gedung Agung dimainkan empat pemain, dua di antaranya mengenakan pakaian SMU, satu di antaranya berpakaian ala pejabat, dan satu lagi berpakaian ala guru. Kostum dan dandanan para pemain dikonsep secara mencolok untuk menggambarkan betapa glamournya kehidupan pemuda pada zaman sekarang.

"Kami menyebutnya generasi pemuda saat ini sebagai generasi Lolipop karena penuh warna warni," imbuh Evan.

Sembari menenteng poster di antaranya bertuliskan Piye Dab Kabare, para awak Teater Lilin berjalan menyusuri Jalan Maliboro menuju Gedung Agung. "Kami sengaja memilih Malioboro karena jalan ini merupakan tempat strategis di Jogja, sehingga kami berharap disaksikan banyak orang. Adapun Gedung Agung merupakan simbol dari pemerintah," tukas Evan.