Tolak Pembangunan Tambak, Warga Bugel Hentikan Paksa Kegiatan Alat Berat

JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo BayuEkskavator meratakan sisa bangunan yang telah ditinggal pemilik di kawasan bantaran Bengawan Solo di kampung Putat, Kalurahan Sewu, Jebres, Solo, Rabu (29 - 1). Progran normalisasi di aliran Bengawan Solo tersebut akan terus dilakukan dengan cara merelokasi warga yang tinggal di bantaram
03 Februari 2014 14:24 WIB Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Polemik pembangunan tambak udang di Pesisir Kulonprogo mencapai klimaks, Minggu (2/2/2014).

Ratusan warga Pedukuhan I, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan ramai-ramai menahan eksavator yang dipergunakan untuk mengeruk gumuk pasir,

Aksi tersebut berlangsung sekitar pukul 09.00 hingga 13.30 WIB. Massa mendatangi lokasi pembuatan tambak yang tengah berlangsung di wilayah setempat.

Sumanto, 45, salah satu warga menuturkan, niat warga kala itu adalah untuk meminta pemulihan kembali satu lahan di sebelah timur Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pantai Bugel yang sudah terlanjur dikeruk.

"Kami datang ke lokasi yang satunya, kebetulan pengerukan masih berlangsung," ujar Sumanto saat ditemui wartawan, Minggu (2/2/2014) sore.

Sayang, pekerja di proyek pembuatan tambak itu melarikan diri begitu melihat banyak warga bergerak mendekat ke lokasi tempat mereka bekerja. Namun, tenaga pengoperasian eksavator tidak sempat kabur. Beruntung warga tidak melakukan penganiayaan terhadapnya. Pekerja tersebut hanya disuruh meratakan kembali gumuk pasir yang belum selesai dikeruk sepenuhnya.

"Kami juga menuntut gumuk pasir di sebelah timur TPI yang sudah selesai dikeruk supaya dikembalikan seperti semula," tandasnya.

Kebetulan saat itu, lanjut Sumanto, sejumlah anggota Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Panjatan, seperti Camat dan Kapolsek juga mendatangi lokasi proyek. Dalam kesempatan itu, warga akhirnya mengungkapkan sikap keberatan terhadap pembuatan tambak di pesisir Bugel.

Sumanto mengungkapkan, tambak yang tengah dibuat jelas-jelas mengancam kelestarian lingkungan pantai. Keberadaan tambak hanya berjarak kurang dari 100 meter dari pantai. Jelas-jelas menurut dia kawasan itu merupakan sempadan pantai.

"Jika dipaksakan jelas nanti pertanian di sini kena terjangan air laut saat ombak pasang karena gumuk pasir diratakan. Jadi sudah tidak ada lagi penahan ombak," paparnya melanjutnya.

Dia menegaskan agar pembuatan tambak dihentikan dan gumuk pasir dipulihkan seperti semula.

"Jika masih nekat ya siap-siap saja berhadapan dengan warga," ancamnya.