WISUDA ABDI DALEM : Bupati Pun Jalan Jongkok

05 Februari 2014 13:27 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Wisuda yang digelar pada hari tingalan dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, Selasa (3/2/2014) diikuti mulai bupati, kepala Kanwil Badan Pertanahan Nasional, tak terkecuali sejumlah anggota Sekretariat Bersama Keistimewaan DIY.

Di Bangsal Kasatriyan, Kraton, wisuda itu digelar. Sementara para calon abdi dalem berada di bangsal tersebut, ratusan abdi dalem duduk bersila di halaman luar bangsal yang menghubungkan dengan bangunan Bangsal Kencana.

Hiruk pikuk keramaian wisatawan hari itu kontras dengan kesunyian nan sakral di bangsal, tempat wisuda digelar.

Untuk memperoleh kekancingan pengangkatan abdi dalem, para calon abdi dalem itu telah ditempa pengetahuan selama tiga hari, pekan sebelumnya 27-29 Januari. Jalan jongkok yang dilakukan untuk menerima kekancingan tersebut termasuk salah satu materi latihan saat itu.

Mlajeng tengen, jangkah kiwo,' begitu rumus jalan jongkok itu. Mlajeng tengen berarti kaki kanan maju terlebih dahulu, disusul jangkah kiwo atau ancang-ancang melangkahkan kaki kiri untuk bergiliran maju.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo pun melakoni hal itu pada wisuda tersebut. Meski pada hari pertama ia absen tidak turut latihan, dokter spesialis kandungan itu terlihat lancar berjalan jongkok mengambil kekancingan yang diberikan Gusti Kanjeng Ratu Pembayun, putri sulung Sri Sultan HB X.

Profesinya sebagai dokter spesialis kandungan (SpOG) itu turut mewarnai gelar nama yang diberikan Kraton. Kini, ia menyandang nama baru yakni Kanjeng Mas Tumenggung Hastahusadadipuro. Makna profesinya di bidang kesehatannya melekat pada kata husada.

Mengabdi sebagai abdi dalem, Hasto mengaku ingin turut nguri- nguri budaya. Menurutnya, legitimasi keistimewaan yang diperoleh lewat Undang-undang Keistimewaan DIY akhir 2012 lalu, menjadi kekuatan untuk mengembalikan karakter warga Jogja mengingat semakin rendahnya tata krama anak muda saat ini.

“Sebab itu, saya ingin bagaimana mengolah kurikulum, muatan lokal dan ekstrakurikuler yang mengembangkan tata krama kepada siswa di Kulonprogo,” kata dia.

Tak hanya Hasto yang resmi menjadi abdi dalem keprajan. Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Arie Yuwirin juga ikut diwisuda.

Sebagai Kepala BPN, perempuan asal Semarang itu ingin menjadi abdi dalem karena memperoleh mandat untuk ikut mengatur Sultan Grond dan Pakualam Grond.
“Karena itu saya ingin mendalami budaya dan sejarah Kraton dengan menjadi abdi dalem,” ujar Arie yang memperoleh nama Kraton Nyi Raden Riya Kismanggalawati.

Turut diwisuda pula dalam kesempatan itu adalah, anggota Sekretariat Bersama Keistimewaan, seperti Widihasto Wasana Putro, Ki Demang Wangsat Yudin dan Julius Felicianus. Mereka diberikan pangkat Wedono karena jasa mereka dalam memperjuangkan keistimewaan sampai terbitnya UUK.

Ki Demang mengaku menjadi abdi dalem karena ingin terus mempertahankan keistimewaan. “Ya mempertahankan budaya ini, karena sekarang ini banyak budaya dari luar yang ingin merusak tatanan kraton,” kata dia

Pengageng Tepas Duwarapura Keraton Kanjeng Raden Tumengung Jatiningrat mengatakan, wisuda abdi dalem keprajan seharusnya diikuti 117 orang. Namun, 18 orang di antaranya ditunda karena persyaratan administrasi yang belum lengkap.