Kampung Ketandan Diusulkan Dapat Dana Keistimewaan

JIBI/HARIAN JOGJA/DESI SURYANTOTARI TANGAN SERIBU -- Puluhan penari dari Amour menarikan Tari ??Tangan Seribu? pada acara pembukaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta VIII-2012 di ketandan, Jogja, Kamis (2/2) malam. Pekan kebudayaan yang mengusung Kebhinekaan Yogyakarta ini akan digelar selama lima hari hingga Senin (6 - 2), berbagai pertunjukan dari 46 grup kesenian di DIY dan beragam kuliner khas tionghoa serta pertujukan wayang poo tay hie digelar setiap hari di kawasan ini.
06 Februari 2014 11:48 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Puluhan rumah kuno di Kampung Ketandan tidak mendapatkan perhatian serius pemiliknya, padahal rumah- rumah berusia lebih 100 tahun itu dapat mendongkrak potensi wisata di DIY.

Ketua Umum Panitia Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) Tri Kirana Muslidatun mengusulkan Pemerintah Daerah DIY dapat mengambil bagian untuk merevitalisasinya melalui program Keistimewaan 2014.
Hal ini sudah dilakukan di rumah pecinan Semarang, Surabaya dan Singapura. Hasilnya, perekonomian di sana tumbuh.

"Kebanyakan pemilik rumah kuno di Ketandan sudah berusia lanjut, sehingga enggan mengelola," ujar dia.

Usulan itu disampaikan Ana-panggilan akrab istri Walikota Jogja tersebut-langsung dengan menemui Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Harapan dia, Ketandan juga dapat masuk dalam program penataan kawasan Malioboro sebagai bagian dari City of Heritage.

Gubernur, kata dia, memberikan respon positif terhadap usulannya tersebut dengan merekomendasi untuk mendiskusikannya dengan Dinas Kebudayaan. "Besok (Kamis,6/2/2014), kami bertemu dengan Dinas Kebudayaan DIY,"ungkapnya.

Tahun ini, lewat pendanaan kepanitiaan PBTY, baru satu rumah yang direvitalisasi dengan mengecat ulang dan memperbaiki sedikit kerusakan bangunan. Bangunan itu akan dijadikan Rumah Budaya Ketandan, yang di dalamnya dipamerkan pernak-pernik, furnitur antik khas pecinan.

Rumah Budaya ini akan diresmikan dalam Pekan Budaya Tionghoa yang digelar pada minggu mendatang. Ana berharap revitalisasi itu dapat memancing para pemilik untuk turut memperbaiki rumahnya. Ketika rumah-rumah kuno sudah seluruhnya direvitalisasi, festival Tionghoa dapat digelar tidak hanya satu tahun sekali.

"Sebulan atau sepekan sekali secara bertahap karena Pecinan sudah dapat disebut sebagai destinasi wisata baru," ujar dia.