Bersihkan Abu Vulkanik, Warga Kepuhharjo Kekurangan Air

18 Februari 2014 12:17 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Warga mulai kekurangan air untuk membersihkan debu vulkanik di lingkungannya masing-masing. Sebagian di antaranya bahkan terpaksa membuka jaringan pipa air di jalanan.

Seperti yang terjadi Desa Kepuhharjo, kecamatan Cangkringan yang masih membutuhkan bantuan air untuk membersihkan debu vulkanik.

Kepala Desa Kepuhharjo Heri Suprapto menjelaskan, air saat ini menjadi sangat dibutuhkan warga pasca hujan abu kiriman dari Gunung Kelud. Menurutnya, membersihkan abu tidak bisa dilakukan tanpa air, mengingat jika disapu debunya justru beterbangan.

Jika sebagian besar warga menggunakan pasokan air di rumah masing-masing untuk membersihkan debu, maka kebutuhan air di rumah tangga akan terganggu. Karena itu ada beberapa warga yang terpaksa memutus pipa air saluran dari mata air Umbul Wadon, Cangkringan.

"Banyak yang melepas pipa saluran, mau bagaimana lagi untuk kebutuhan masyarakat juga. Kalau dari tiap keluarga tidak cukup. Hujan juga belum turun," ungkap Heri, Senin (17/2/2014).

Heri berharap ada pihak yang memberikan bantuan air berupa tangki, terutama untuk mengairi sejumlah pelayanan publik seperti gedung TK/SD dan SMP di Cangkringan untuk meminimalisir debu beterbangan.

Hal yang sama juga dilakukan warga Dusun Pondok, Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan. Beberapa warga juga dengan terpaksa melepas pipa saluran air bersih untuk mengairi lingkungan yang berdebu. Selain itu ada juga mengerahkan diesel pompa di area persawahan.

Bahkan warga rela membeli air tangki jika ada yang menjual keliling untuk menyemprotkan debu. "Kalau ada beli tidak apa-apa, syukur kalau ada bantuan," ujar Jumono, 32, warga Dusun Pondok.

Jika dihitung untuk wilayah Sleman saja masih membutuhkan puluhan bahkan ratusan tangki untuk membersihkan sejumlah area publik yang masih tersebar abu vulkanik.