PENGEMBANGAN CHINA TOWN : Warga Pecinan Khawatir Tingkatkan Kriminalitas

JIBI/HARIAN JOGJA/DESI SURYANTOFESTIVAL NAGA BARONGSAI -- Peserta menunjukkan kebolehannya dalam memainkan naga barongsai pada acara "Jogja Dragon Festival" yang digelar di sepanjang jalan Malioboro, Yogyakarta, Senin (6 - 2) malam. Festival ini menandai perayaan Cap Go Meh dan menjadi bagian dari penutupan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakata (PBTY) VII/2012 yang berlangsung di kampung Ketandan.
03 Maret 2014 13:58 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Pengembangan kampung pecinan Ketandan menjadi China Town dikhawatirkan justru meningkatkan kerawanan kriminalitas, sehingga revitalisasi rumah- rumah kuno menjadi kawasan perekonomian itu tak berjalan mulus.

“Mayoritas warga sudah sepuh-sepuh takut kalau jadi China Town ketika pulang mereka dibuntuti orang,” ujar Tri Kirana Muslidatun, istri Walikota Jogja yang selama ini menjabat Ketua Panitia Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta akhir pekan lalu.

Keluhan itu, menurut dia, sudah pernah disampaikan langsung ke Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Beberapa minggu lalu, jelang pencairan dana keistimewaan (Danais) 2014 ini, ia mengajukan ke Pemda DIY rehabilitasi rumah kuno tersebut, tapi karena kekhawatiran itu hanya lima rumah yang teridentifikasi.
“Karena hanya mereka yang terbuka terhadap pengembangan China Town," ujarnya.

Meski begitu, tambah dia, warga bisa mengajukan sendiri ke pemerintah kota atau provinsi. Sebab, pada dasarnya, pemerintahan menganggarkan dana untuk perawatan cagar budaya.