4 Prajurit TNI Penganiaya Serda Ahmad Sempat Beri Kabar Bohong Korban Kecelakaan
Empat prajurit TNI AU ditahan terkait dugaan penganiayaan yang menyebabkan Serda Ahmad Muzammil Farisa, 22, meninggal dunia.
Ilustrasi industri mebel (JIBI/Harian Jogja/Antara)
Harianjogja.com, KULONPROGO-Bisnis mebel di Kulonprogo lesu, sekalipun potensi kayu tinggi. Minimnya sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengolah kayu disinyalir menjadi penyebab utama.
Masyarakat memilih untuk berbisnis gelondong yang berdampak pada 120 meter kubik kayu batangan bulat keluar dari Kulonprogo setiap hari.
Wahyono, pemilik usaha mebel Jati Indah di Dusun Ngipik, Desa Bumirejo, Kecamatan Lendah, menuturkan, orang lebih memilih untuk menjadi pedagang kayu ketimbang pengusaha mebel. Alasannya, sulit mendapatkan SDM yang mampu mengolah kayu secara profesional di Kulonprogo.
“Bisa dikatakan, saat ini belum ada pengrajin yang mampu mengolah kayu dan merebut pasaran nasional dari Kulonprogo,” ujarnya, Jumat (31/10/2014).
Apalagi, sebutnya, usaha mebel yang minim SDM hanya bergantung pada pasar lokal saja, sebab pasar nasional akan memilih mebel yang dibuat oleh pengrajin profesional. Sementara, pasar lokal yang terdiri dari para petani hanya akan menjadi konsumen saat pertanian berhasil.
Diakuinya, selama ini belum ada pembinaan secara langsung dari pemerintah terkait pengembangan SDM di bidang kerajinan mebel. Rata-rata pemilik usaha mebel justru membayar orang dari luar Kulonprogo sebagai pengrajinnya.
Sulitnya SDM juga mengakibatkan orang Kulonprogo memasang tarif lebih mahal untuk mengerjakan pembuatan mebel. Ia memaparkan, pengrajin dari Klaten bisa dibayar Rp80.000 untuk satu pekerjaan, sedangkan orang Kulonprogo memiliki standar upah lebih tinggi untuk mengerjakan hal serupa yaitu sekitar Rp200.000.
Masyarakat yang tertarik di bisnis kayu, ungkap Wahyono, akhirnya memilih untuk menjual gelondong karena pasar yang lebih pasti dan penjualan lebih cepat.
Selain membuka usaha pembuatan mebel, ia juga bergerak di bidang penjualan gelondong. Omzet yang diperoleh per bulan mencapai Rp200 juta per bulan. “Dari omzet itu bisa terlihat usaha mebel hanya berkontribusi 20 persen saja,” tuturnya.
Dikhawatirkan Wahyono, jika keadaan ini terus dibiarkan potensi kayu, terutama kayu jati di Kulonprogo akan habis. Dalam satu hari, sekitar 120 meter kubik kayu dari Kulonprogo per hari, justru lari ke daerah lain, seperti Jepara.
“Akan lebih baik jika potensi sebesar itu dimanfaatkan untuk usaha mebel, tetapi juga harus diikuti dengan kapasitas SDM yang mumpuni,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Empat prajurit TNI AU ditahan terkait dugaan penganiayaan yang menyebabkan Serda Ahmad Muzammil Farisa, 22, meninggal dunia.
Dinkes Bantul menemukan bakteri Bacillus sp pada menu bistik galantin dalam kasus keracunan MBG di Jetis yang menimpa 53 orang.
Amran mengungkap 25 merek beras fortifikasi diduga tak sesuai label. Kerugian konsumen diperkirakan mencapai Rp89 triliun.
Utang luar negeri Indonesia mencapai Rp8.211,8 triliun per Juli 2026, naik 4,9% YoY. ULN publik naik, sedangkan swasta terkontraksi.
Kelok 23 Bantul-Gunungkidul diperpanjang demi mengurangi risiko tebing runtuh. DPRD DIY juga soroti potensi ekonomi dan pariwisata.
Serah terima jabatan Menkeu berlangsung singkat. Purbaya hanya menyampaikan 57 kata sebelum menyerahkan jabatan kepada Suahasil Nazara.