Gunungkidul Siaga Kekeringan hingga Agustus, BPBD Siapkan 1.500 Tangki
BPBD Gunungkidul menetapkan siaga darurat kekeringan hingga 31 Agustus 2026. Sebanyak 1.500 tangki air disiapkan untuk mengantisipasi krisis air bersih.
Truk terendam banjir di Wonosari Gunungkidul, Rabu (11/12/2013). (JIBI/Harian Jogja/Ujang Hasanudin)
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Warga di bantaran Sungai Besole, Wonosari diminta untuk mewaspadai bahaya banjir.
Pengalaman tahun lalu, di sepanjang aliran sungai di Dusun Gadungsari, Kepek, Besari dan Siraman terjadi banjir setinggi satu meter.
(Baca Juga : http://www.harianjogja.com/baca/2014/01/13/warga-gunungkidul-heran-banjir-terjadi-dua-kali-sebulan-481634">Warga Gunungkidul Heran Banjir Terjadi Dua Kali Sebulan)
Kepala Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (Kapedal) Gunungkidul Irawan Jadmiko mengatakan, banjir menjadi salah satu bencana yang harus diwaspadai masyarakat saat musim hujan. Untuk itu, masyarakat di sepanjang aliran sungai diminta untuk memerhatikan lingkungan sehingga potensi banjir bisa dikurangi.
“Banjir tahun lalu harus menjadi perhatian bersama, sehingga masyarakat di sepanjang aliran Sungai Besole untuk lebih waspada.
Terutama untuk menjaga kebersihan lingkungan,” kata Irawan saat ditemui Harianjogja.com di ruang kerjanya, Senin (17/11/2014).
Selain karena curah hujan tinggi, sedimentasi aliran sungai juga ikut andil terjadinya banjir. Namun, banjir juga seringkali disebabkan karena perilaku buruk masyarakat. Sampah yang dibuang sembarangan membuat aliran air jadi terhambat dan berdampak terhadap potensi banjir jadi semakin besar.
“Semuanya saling berkaitan, sehingga dibutuhkan kesadaran bersama untuk mengurangi risiko terjadinya banjir,” ungkapnya.
Lebih jauh dikatakan Irawan, pengalaman banjir yang terjadi di akhir 2013 lalu, ternyata banjir tak hanya terjadi di wilayah hulu (Besari, Siraman). Sebab, di wilayah hilir (Selang) juga tak luput dari terjangan air bah.
Berdasarkan penelitian, yang dilakukan Kapedal menemukan fakta bahwa makin berkurangnya serapan air ikut memberikan andil terjadinya banjir. Dia menjelaskan, banyaknya bangungan dengan sistem betonisasi dan semenisasi membuat air langsung menuju ke hilir tanpa bisa terserap ke dalam tanah.
Sementara itu, Camat Wonosari Iswandoyo mengakui di sepanjang aluran Kali Besole rawan banjir. Potensi rawan itu melihat terjadinya banjir di akhir tahun lalu. Dia menjelaskan, upaya pencegahan telah dilakukan antara lain normalisasi aliran sungai, pembuatan sumur resapan serta gerakan kebersihan lingkungan. Namun, menurut Iswandoyo, upaya tersebut tidak akan berhasil tanpa peran dari masyarakat.
“Kami sudah membuat beberapa sumur resapan, hingga memperlancar aliran sungai supaya risiko banjir dapat dikurangi. Semua upaya itu akan berhasil jika didukung dengan kesadaran masyarakat di sekitar aliran sungai, terutama untuk menjaga kebersihan lingkungan” serunya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul menetapkan siaga darurat kekeringan hingga 31 Agustus 2026. Sebanyak 1.500 tangki air disiapkan untuk mengantisipasi krisis air bersih.
Tiga penyebab WiFi lemot di rumah modern yang sering terabaikan serta cara mengatasinya agar koneksi lebih stabil.
Korea Selatan vs Meksiko di Piala Dunia 2026 jadi laga krusial Grup yang berpotensi menentukan tiket awal ke babak 32 besar.
Bakamla RI lirik DIY sebagai titik strategis pengawasan Laut Selatan dalam sistem keamanan maritim nasional terintegrasi.
Kanada vs Qatar di Piala Dunia 2026 jadi laga krusial Grup B dengan peluang seimbang dan tekanan besar bagi kedua tim.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo 19 Mei 2026 dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.