GUNUNG MERAPI : Musim Hujan Berpotensi Terjadi Letusan Freatik

Sejumlah relawan dari berbagai komunitas yang tergabung dalam gerakan Seribu Cita Satu Indonesia memasang 1.000 bendera merah putih di kaki Gunung Merapi, Kaliadem, Sleman, Sabtu (16/8/2014). Kegiatan pemasangan tersebut merupakan persiapan untuk pelaksanaan upacara bendera dalam rangka HUT Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-69. (JIBI/Solopos/Antara - Regina Safri)
22 Januari 2015 15:20 WIB Redaksi Solopos Sleman Share :

Gunung Merapi sementara waktu ditutup. Kebijakan ini membantu BPPTKG melakukan pengamatan dan mewaspadai potensi letusan freatik selama musim hujan.

Harianjogja.com, SLEMAN- Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY menilai phttp://www.harianjogja.com/baca/2015/01/09/cuaca-ekstrem-jalur-pendakian-merapi-ditutup-2-bulan-566515">enutupan sementara selama hampir dua bulan pendakian Gunung Merapi akan lebih memudahkan dalam pemantauan aktivitas gunungapi yang berada di perbatasan Kabupaten Sleman dan Jawa Tengah
tersebut.

"Penutupan pendakian oleh Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) memudahkan kami dalam pemantauan aktivitas Gunung Merapi" kata Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG DIY Agus Budi Santoso, Rabu (21/1/2015).

Menurut dia, waktu saat ini masih berlangsung puncak musim hujan yang berpotensi menimbulkan letusan freatik Gunung Merapi. Dengan tidak adanya aktivitas manusia di dekat stasiun-stasiun pemantauan Gunung Merapi, kata dia, 'noise' (gangguan) dapat dikurangi. Hasilnya, perekaman setiap aktivitas Gunung Merapi akan lebih sempurna karena penangkapan sinyalnya cukup baik.

"Ini akan lebih memudahkan petugas dalam memantau aktivitas gunung selama musim hujan. Ya memang, berkaca pada tahun sebelumnya, banyak terjadi letusan- letusan freatik yang dipicu air hujan yang masuk ke permukaan dapur magma," katanya.

Selama musim hujan kali ini, diakuinya belum ada letusan atau embusan asap yang terdeteksi menonjol. Namun, tetap masih ada potensi. Terakhir, embusan atau letusan freatik terjadi, pada 20 April 2014.

Mengenai belum terdeteksinya embusan saat ini, Agus memberikan beberapa kemungkinan. Misal sistem vulkanik di dalam perut gunung yang berubah.

"Kemungkinan sistem vulkaniknya sudah berubah, kan gunungapi itu dinamis. Terutama karena letusan-letusan (freatik) sebelumnya. Yang menyebabkan proses pendinginan magma menjadi cukup signifikan ketika ada air hujan yang masuk ke dalam," katanya.

Ia mengatakan, akibat letusan freatik tahun lalu juga membuat sumbat lava pipa menjadi lemah, sehingga air hujan tidak sempat terakumulasi di dalam.

"Dinamisnya sistem vulkanik tersebut juga dapat diketahui perkembangan dari tahun ke tahun. Setelah erupsi akhir 2010, pada 2011 sampai 2012 masih terlihat adanya lahar di sekitar kubah. Namun, pada 2013 berganti embusan asap.

Menurut dia, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya tetap memberikan rekomendasi agar tidak ada aktivitas manusia di puncak Gunung Merapi.

"Selain agar alat yang kami pasang tidak terganggu juga mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi embusan. Jika memang dalam evaluasinya, sudah dipastikan tak ada lagi potensi terjadinya embusan, bukan tidak mungkin rekomendasi tersebut akan dicabut," katanya.