Pemimpin Ideal Versi Mahfud MD dan Anies Baswedan Seperti Ini

Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2013, Mahfud MD (tiga dari kiri), didampingi psikolog, Sus Budiharto (tengah) dan moderator (kiri), menjadi pembicara dalam acara Konferensi Nasional Psikologi Islam di Hotel Royal AMbarukmo, Jumat (27/2/2015). (JIBI/Harian Jogja - Bernadheta Dian Saraswati)
01 Maret 2015 01:15 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Pemimpin ideal, setiap orang memiliki kriteria berbeda. Begitu juga dengan Mahfud MD dan Anies Baswedan.

Harianjogja.com, JOGJA-Fenomena saling berebut jabatan dan menjatuhkan lawan seakan menjadi tren kepemimpinan politik Indonesia saat ini. Hal tersebut dilihat dari kasus KPK-Polri yang sampai saat ini belum ada titik temu. Untuk memperbaiki pola kepemimpinan, seseorang perlu meniru pola kepemimpinan para nabi.

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2008-2013, Mahfud MD, mengungkapkan nabi bersedia menjadi pemimpin karena diberi amanah bukan karena merebut jabatan.

"Sebelum memimpin, nabi sudah memimpin dirinya sendiri. Memimpin mengatasi hawa nafsu, memimpin keluarga dan memimpin dengan qolbu,” kata Mahfud pada peserta The 1st National Conference on Islamic Psychology (NCIP) di Hotel Royal Ambarukmo, Jumat (27/2/2015).

Cara kepemimpinan kenabian atau yang ia sebut dengan kepemimpinan profetik dinilai relevan diterapkan saat ini. Melihat kondisi politik Indonesia yang seakan mempermainkan hukum, Mahfud menegaskan pentingnya menerapkan salah satu ciri kepemimpinan profetik yakni penegakkan hukum.

“Menegakkan hukum dengan adil adalah salah satu cara kepemimpinan nabi,” jelas dia.

Sebenarnya, lanjutnya, Indonesia memiliki kepemimpinan mengakar pada budaya bangsa yakni hasta brata (delapan perilaku).

“Pertama, surya atau matahari lambang ketegasan. Dua, candra atau bulan, memberi terang atau jalan. Tiga, kartika atau bintang memberi petunjuk tentang situasi alam. Empat, buana atau bumi. Bumi sebagai pijakan, tentunya kalau pemimpin ngomong ya harus konsisten,” jelas Mahfud dalam acara yang diprakarsai Fakultas Psikologi dan Ilmu Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) tersebut.

Lima, ada angkasa atau lapang dada dan terbuka pada ilmu serta informasi. Enam adalah banyu atau air yang mengalir dan menyuburkan di mana pemimpin harus memberi harapan dan justru jangan menakut-nakuti. Tujuh, bayu atau angin yang sewaktu-waktu dapat membuat masalah menjadi besar bisa juga kecil. Terakhir adalah geni yang berarti api.

“Api itu simbol ketegasan. Pemimpin harus punya ketegasan hukum,” jelas dia.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, yang berperan sebagai keynote speaker menjelaskan empat pola kepemimpinan nabi yang dapat ditiru pemimpin Indonesia.

“Ada cukup banyak stok sifat kenabian yang bisa dijadikan rujukan memimpin. Amanah [dapat dipercaya], fathonah [cerdas], shiddig [benar], dan tabligh [berani menyampaikan],” ungkap dia.

Disinggung tentang acara, ketua panitia, Resnia Novitasari, menjelaskan penyelenggaraan konferensi bertujuan mensosialisasikan Psikologi Islam sebagai paradigma dalam psikologi pada masyarakat.