Advertisement
Festival Fotografi Internasional di ISI Jogja Cetak Kader Muda
Sejumlah karya fotografer muda yang dipasang dalam rangkaian perhelatan IIYPF, Minggu (8 - 2) di ISI Jogja. Dalam ajang itu sedikitnya panitia menerima 1.018 karya dari 380 fotografer muda asal 13 negara.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Regenerasi fotografer muda Indonesia mendapat ruang aktual melalui Indonesia International Youth Photography Festival (IIYPF) yang digelar di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja. Festival ini menjadi magnet bagi ratusan peserta lintas daerah dan jenjang pendidikan, dengan total keterlibatan sekitar 600 orang hingga puncak acara Laga Fotografi Kawula Muda 2026 yang berlangsung Minggu (8/2/2026).
Rektor ISI Jogja, Irwandi, menilai IIYPF sebagai medium kaderisasi fotografer muda yang sejalan dengan Tridharma Perguruan Tinggi dan konsep kampus berdampak. Melalui rangkaian pameran, workshop intensif selama tiga hingga empat hari, serta kompetisi fotografi, peserta didorong mengembangkan kompetensi teknis sekaligus kesiapan karier sejak dini.
Advertisement
“Pesertanya lebih dari 500 orang dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Bahkan, pameran yang digelar berskala internasional. Ini menjadi ruang aktual bagi generasi muda untuk tumbuh dan menunjukkan kemampuan mereka,” ujar Irwandi.
Penyelenggaraan IIYPF merupakan hasil kolaborasi ISI Jogja dengan Federasi Perkumpulan Seni Foto Indonesia (FPSI), didukung jejaring organisasi fotografi serta komunitas mahasiswa. Bagi ISI Jogja, festival ini menjadi pijakan awal dalam membangun regenerasi fotografer muda yang terstruktur dan berkelanjutan.
BACA JUGA
Irwandi menyebut IIYPF sebagai test case penting untuk pengembangan ekosistem fotografi ke depan. ISI Jogja bersama FPSI menargetkan terbentuknya melting pot talenta muda fotografi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Disrupsi teknologi, termasuk kehadiran kecerdasan buatan (AI), dipandang sebagai momentum untuk memperkuat kreativitas, kepemimpinan, dan soft skill generasi muda.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memotret, tetapi juga belajar berorganisasi, berkolaborasi, serta mengelola event berskala besar. Ini menjadi bekal penting dalam menghadapi masa depan dunia fotografi,” katanya.
Ketua Umum FPSI, Agatha Anne Bunanta, menegaskan regenerasi menjadi fokus utama organisasi dalam beberapa tahun terakhir. FPSI yang berdiri sejak 1973 secara aktif menggandeng perguruan tinggi guna memastikan estafet fotografer muda terus berlanjut.
“IIYPF pertama ini kami gelar di ISI Jogja sebagai wujud nyata pembinaan dan penguatan generasi muda fotografi,” ujarnya.
Festival IIYPF yang berlangsung pada 5–14 Februari tersebut mencakup pameran internasional, workshop, serta lomba foto on the spot. Pameran internasional diikuti fotografer muda dari 13 negara dan telah memperoleh FIAP Auspices, pengakuan internasional di bawah naungan UNESCO.
Secara keseluruhan, pameran internasional mencatat 1.018 karya dari 380 fotografer muda asal 13 negara. Sementara di dalam negeri, peserta berasal dari 19 kota yang melibatkan 78 universitas dan 11 sekolah. Untuk laga fotografi, jumlah peserta terdaftar mencapai sekitar 580 orang, dengan potensi menembus 600 peserta, berasal dari 30 universitas, 38 SMA/SMK, serta tiga SMP di 26 kota.
“Tujuannya jelas, mempercepat peningkatan kreativitas, memperluas wawasan, dan membangun jejaring fotografi sejak usia muda,” kata Agatha, sejalan dengan upaya memperkuat ekosistem fotografi nasional yang berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Sinkhole Situjuah Berpotensi Melebar, Warga Diminta Jaga Jarak Aman
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



