Advertisement
Beranda Migran Perkuat Pemulihan Psikososial Korban Kebakaran PMI
Peserta mengikuti Program Dukungan Psikososial bagi Relawan dan Keluarga Korban Tragedi Kebakaran Tai Po, Hong Kong, di Tara Hotel Jogja, Kamis-Jumat (5-6/2/2026) - ist Beranda Migran
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Upaya pemulihan keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI) korban tragedi kebakaran di Hong Kong terus berlanjut. Beranda Migran menggelar Program Dukungan Psikososial bagi relawan dan keluarga korban kebakaran Wang Fuk Court Estate, Distrik Tai Po, Hong Kong, yang berlangsung di Tara Hotel Jogja selama dua hari, Kamis–Jumat (5–6/2/2026).
Program ini dirancang sebagai pendampingan lanjutan sekaligus ruang aman untuk memperkuat kapasitas relawan serta mendukung pemulihan psikososial keluarga korban yang masih menghadapi trauma dan ketidakpastian pascakejadian.
Advertisement
Tragedi kebakaran yang terjadi pada November 2025 tersebut tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menyisakan luka mendalam bagi keluarga sembilan PMI yang menjadi korban. Duka berkepanjangan, trauma psikologis, hingga persoalan sosial yang belum tuntas menjadi realitas yang masih dihadapi hingga kini.
Di sisi lain, para relawan pendamping—yang mayoritas merupakan purna pekerja migran—juga berada dalam posisi rentan. Intensitas pendampingan yang tinggi, minimnya ruang pemulihan, keterbatasan pemahaman tentang pendampingan kedukaan, serta kompleksitas persoalan sosial di tingkat komunitas turut memicu kelelahan emosional dan trauma sekunder.
BACA JUGA
Direktur Beranda Migran, Hanindha Kristy, menegaskan bahwa kebutuhan keluarga korban tidak berhenti pada pemenuhan hak administratif dan hukum semata.
“Keluarga membutuhkan kejelasan informasi dan keadilan, tetapi pada saat yang sama mereka juga membutuhkan pendampingan psikososial agar mampu bertahan dan melanjutkan hidup setelah kehilangan,” ujarnya dalam rilis pers, Sabtu (7/2/2026).
Sebagai bentuk respons atas kebutuhan tersebut, kegiatan dua hari ini menghadirkan Totok S. Wiryasaputra, konselor kedukaan dan praktisi intervensi krisis, sebagai fasilitator utama.
Totok menjelaskan bahwa praktik menemani orang berduka sejatinya telah lama hidup dalam berbagai kebudayaan melalui tradisi melayat dan kebersamaan, yang kini berkembang menjadi pendekatan psikososial yang lebih sadar dan beretika.
“Pendampingan bukan soal banyak bicara atau menghibur, tetapi tentang hadir sepenuhnya dengan segenap hati, pikiran, dan tubuh bersama orang yang berduka,” tegasnya.
Dalam sesi pendalaman materi, peserta diajak memahami bahwa kedukaan merupakan respons alami atas kehilangan sekaligus mekanisme pertahanan diri untuk mencapai keseimbangan baru. Kedukaan dipahami sebagai pengalaman yang unik dan holistik karena menyentuh aspek fisik, mental, sosial, hingga spiritual seseorang.
Totok juga memaparkan tahapan kedukaan yang umum dialami, mulai dari penyangkalan, kemarahan, bargaining, depresi, hingga penerimaan. Ia mengingatkan adanya risiko unfinished grief apabila proses tersebut tidak tertangani dengan baik.
“Kedukaan yang dibiarkan berlarut-larut dapat berkembang menjadi persoalan klinis yang lebih berat,” katanya.
Pada hari kedua, kegiatan diisi dengan sesi berbagi pengalaman langsung dari keluarga korban dan relawan pendamping. Dalam sesi ini terungkap bahwa sejumlah praktik sosial dan budaya di masyarakat—seperti pertanyaan berulang mengenai santunan, tekanan untuk segera ‘ikhlas’, hingga kehadiran orang-orang yang tidak dikenal—sering kali justru memperpanjang dan memperdalam duka keluarga.
Sepanjang kegiatan, Beranda Migran juga membuka ruang aman bagi relawan untuk membicarakan kelelahan emosional dan trauma sekunder yang mereka alami. Pengalaman menghadapi konflik sosial, risiko penipuan, hingga tekanan ekspektasi dari lingkungan sekitar menjadi pengingat bahwa pendamping juga membutuhkan pendampingan.
Melalui program ini, Beranda Migran menegaskan komitmennya dalam memperkuat kapasitas relawan dan purna pekerja migran sebagai garda depan pendampingan keluarga korban. Penguatan psikososial ini diharapkan mampu mendukung proses pemulihan keluarga korban sekaligus meningkatkan kualitas pendampingan di tingkat komunitas migran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Prabowo Siapkan Kampung Haji di Mekkah, Targetkan Biaya Haji Turun
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
- Menjaga Manis Tradisi: Kue Keranjang Imlek dari Tukangan Jogja
- Sekolah Bantul Diminta Prioritaskan Jasa Lokal untuk Study Tour
- Go VHS 2026, Ajang Pameran Inovasi Gim hingga Kuliner Karya Siswa SMK
- Gerakan ASRI dan Jogja Berhati Nyaman Bakal Digelar Rutin Tiap Jumat
- Wali Kota Hasto Dorong PSIM Jogja Andalkan Pemain Lokal Jogja
Advertisement
Advertisement



