RASKIN 2015 : Meski Kurang Enak, Raskin Tetap Dimasak Sendiri

Kondisi raskin yang tidak layak konsumsi di Desa Kepek Wonosari Gunungkidul (David Kurniawan/JIBI - Harian Jogja)
09 Maret 2015 00:20 WIB Sunartono Sleman Share :

Raskin 2015 baru saja dibagikan. Meski berasnya kurang enak, warga di Sleman tetap memasaknya untuk makan

Harianjogja.com, SLEMAN - Kecamatan Prambanan merupakan wilayah penerima terbanyak program rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTSPM) beras miskin (raskin).

Sebagian besar beras tersebut dimasak sendiri dan tidak untuk dijual kembali meski rasanya kurang enak.

Berdasarkan data, ada sebanyak 4.684 kepala keluarga yang terdaftar sebagai RTSPM di Kecamatan Prambanan. Camat Prambanan Abu Bakar menjelaskan untuk jatah raskin sudah diedarkan sesuai dengan jatah yang didistribusikan ke kecamatan.

Setiap penerima mendapatkan 15 kilogram beras. "Sebagian besar dimasak sendiri kalau di Prambanan," ungkapnya, belum lama ini.

Kepala Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan Mujimin menambahkan ada sebanyak 943 kepala keluarga di desanya sebagai penerima raskin. Kendati demikian tidak yang menjual kembali, sebagian besar dimasak sendiri.

Meski kadang warga merasakan ada perbedaan beras dari raskin dibandingkan beras pada umumnya. Ia mengakui bahwa raskin kadang kurang enak saat dimasak.

"Bagaimana ya, intinya menurut warga ada yang beda rasanya [kurang enak] antara raskin dengan beras pada umumnya. Mungkin karena [raskin] berasnya tersimpan lebih lama, jadi agak beda. Tapi saya tegaskan tidak warga kami yang menjual, semua dimasak sendiri. Apalagi beras sekarang mahalnya minta ampun, pilih diliwet [dimasak] sendiri," kata dia.

Hal yang sama juga disampaikan Kepala Desa Wukirharjo Samijan. Sekitar 400 kepala keluarga penerima raskin di desanya juga dimasak sendiri. Mengingat harga beras saat ini masih tergolong tinggi.

Tetapi Samijan melihat beras program raskin saat ini lebih baik ketimbang sebelumnya. "Kemarin itu agak lumayan bagus semua, tidak ada keluhan warga. Ya jelas dimasak sendiri kalau di sini," ucap Samijan.

Meski data penyaluran raskin pada 2015 ini masih mengacu melalui data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011 tapi baik Samijan maupun Mujimin belum mendapatkan protes dari warganya.

"Karena ini [raskin] kan sebenarnya sempat terhenti baru kemudian Februari ini ada lagi. Sampai saat ini belum ada warga yang protes soal itu [pembaharuan data], belum tahu kalau nanti-nanti. Saya berharap datanya diperbaharui," ungkap dia.