PENCURIAN SLEMAN : Pelaku Masih Anak, Kasusnya Biasa Tapi Nyalinya Luar Biasa

JIBI/Solopos/Ardiansyah Indra KumalaZahwa Islami membacakan deklarasi anti Nakal (Narkoba, Alkohol, Kekerasan, Asusila, dan Liar) diikuti ratusan siswa se-Solo di halaman SMA Negeri 1, Solo, Selasa (19 - 11). Deklarasi tersebut sebagai bentuk niat untuk menjauhi tindakan negatif.
15 Maret 2015 23:20 WIB Sunartono Sleman Share :

Pencurian Sleman, Polda DIY tengah serius berupaya untuk menekan tindak kejahatan dengan pelaku yang melibatkan anak-anak. Meski kasusnya tergolong biasa tapi nyali pelakunya dinilai sudah luar biasa.

Harianjogja.com, SLEMAN - Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIY, AKBP Djuhandhani Rahardjo Puro menjelaskan pelaku kejahatan jenis pencurian dengan pemberatan maupun kekerasan selama lima tahun terakhir cenderung menurun. Bahkan berdasarkan pendataannya sejak 2010 penurunan mencapai 30% setiap tahunnya.

"Cenderung menurun tiap tahun sampai 30%. Curanmor 2010 angka tiap hari 25 kasus, sekarang kalau kita bicara tidak lebih dari 20 kasus itu pun hitungannya Minggu. Saya lihat sudah turun drastis, sejak 5 tahun terakhir. Curas nasabah 2010/2011 hampir rata-rata tiap hari ada yang dibacok, satu hari pasti ada. Tapi sekarang kok saya lihat sudah jarang," terangnya akhir pekan lalu.

Meski kasus turun, tetapi ada tren pelaku kejahatan dengan melibatkan anak saat ini mengalami kenaikan. Hal itu dapat dilihat melalui hasil operasi selama 14 hari dari 45 tersangka yang ditangkap delapan diantaranya anak-anak. Bahkan dari tujuh anak tersebut ada yang beroperasi dalam kasus curat sebanyak 50 kali yang kini ditangani oleh Polsek Depok Timur, Sleman. Kasus tersebut, kata dia, di luar kejahatan perampasan jalanan atau begal dengan pelaku anak yang ditangani Polsek Mlati, Sleman juga beroperasi dalam lebih dari 50 TKP.

"Kalau yang Mlati kebetulan di luar operasi," ujarnya.

Dengan banyaknya anak yang terlibat hingga puluhan kali kejahatan dalam hitungan bulan, Djuhandhani menilai nyalinya sudah sangat luar biasa. Meski kasusnya tergolong konvensional atau biasa secara umum. Selain itu para pelaku anak-anak mereka tanpa perhitungan dan hanya mengikuti tersangka pelaku dewasa yang berada di baliknya.

"Kasus memang biasa tapi nyalinya itu luar biasa, rata-rata mereka tidak diperhitungkan. Jadi kami menilai masih tergolong konvensional masih pemula, walaupun keberanian [anak tersebut] luar biasa. Ini termasuk dulu ditangkap Pleret itu ternyata TKP-nya sampai ratusan ternyata," urai dia