DEMAM BERDARAH BANTUL : PMI Tak Berani Simpan Darah, Ini Alasannya

Ilustrasi mengambil darah (JIBI/Harian Jogja - Reuters)
25 Maret 2015 20:20 WIB Bantul Share :

Demam berdarah Bantul perlu ditopang dengan pasokan darah. Adapun darah tak dapat disimpan dalam waktu lama.

Harianjogja.com, BANTUL—Di masa siklus lima tahunan demam berdarah dengue (DBD), Palang Merah Indonesia Bantul tak berani menyimpan stok darah dalam jumlah banyak karena darah yang dibutuhkan bagi penderita DBD hanya mampu bertahan lima hari.

Bidang Pencarian dan Pelestarian Donor Darah Sukarela PMI Bantul Lutfi Nurfajar menjelaskan penderita DBD membutuhkan darah jenis trombosit. Trombosit diperoleh melalui proses pemisahan antara endapan darah merah dan cairan bening.

“Trombosit ada di tengah-tengahnya. Dalam 350cc darah hanya terkandung 50-70cc trombosit,” paparnya, Selasa (24/3/2015).

Trombosit tidak mampu bertahan lama. Maksimal lima hari sejak proses pemisahan. Lain dengan darah pada umumnya yang mampu bertahan 28 hari.

“Begitu jarum dilepas dari pendonor, jika dibutuhkan untuk pasien DBD maka harus segera dipisahkan. Lebih dari enam jam kandungan trombosit akan melebur,” ungkap Lutfi.

Karena itu, pihaknya tidak berani menyimpan stok darah untuk DBD dalam jumlah banyak. PMI Bantul hanya akan menyiapkan darah jika ada pasien DBD yang membutuhkan.

“Tidak ada stok darah tapi stok pendonor. Setiap ada permintaan darah untuk DBD, saat itu juga dilakukan transfusi dari pendonor,” kata Lutfi.

Meski angka kasus DBD di Bantul tinggi namun PMI mengaku baru melayani 15 kantong untuk tiga pasien. Menurut Lutfi, rumah sakit telah mampu memberikan pelayanan sehingga pasien tidak sampai melakukan tranfusi.
Pada Senin (23/3/2015) lalu, Dinas Kesehatan bantul menyebutkan angka kejadian DBD di Kecamatan Kasihan paling tinggi dibanding kecamatan lain. Dari Januari sampai pertengahan Maret, tercatat ada 101 kasus warga Kasihan yang positif terkena DBD.

Kepala Seksi Surveilans Dinkes Bantul Widayati merinci di Kasihan, pada Januari ada lima kasus, Februari sembilan kasus sedangkan di bulan ini sudah ada 12 kasus.

“Total 101 kasus itu lebih banyak dibanding tahun sebelumnya yang 26 kasus,” ujarnya saat itu.

Kepala Dinkes Bantul Pramudi Darmawan menjelaskan tahun ini merupakan masa siklus lima tahunan DBD. Saat ini saja, dalam kurun waktu tiga bulan (Januari-Maret), angka DBD di 17 kecamatan sudah mencapai 452 kasus. Jumlah tersebut berbanding jauh dengan total kasus selama 2014 sebanyak 622 kasus.

“DBD diperkirakan terus meningkat sampai Mei,” katanya.