NIKAH MASSAL : Jauh-jauh dari Jakarta untuk Menikah di Alas

Salah satu pasangan pengantin tiba di Alas Kradenan menumpangi traktor didampingi saksi dan penghulu. Bersama dua pasangan lainnya, mereka mengucapkan ijab qobul di traktor, Sabtu (28/3/2015). (JIBI/Harian Jogja - Bernadheta Dian)
29 Maret 2015 14:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Bantul Share :

Nikah massal kali ini terbilang unik. Sebab calon pengantin melaksanakan ijab qobul di atas traktor.

Harianjogja.com, BANTUL-Sabtu (28/3/2015) jadi hari tak terlupakan bagi kesebelas pasangan yang mengikuti nikah massal di Alas Kradenan, Kelurahan Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Bantul. Momentum itu menjadi istimewa karena ijab qobul dilaksanakan di traktor.

Sebelas pasangan kemarin siap melaksanakan janji suci pernikahan dengan cara yang tak biasa. Bukan mengucapkan janji sehidup semati di dalam masjid atau tempat ibadah lain, atau gedung megah, tapi di traktor. Sebelumnya, mereka diarak sejauh 500 meter menggunakan traktor dan andong. Pementasan barongsai dan drum band mengiringi para pasangan.

Dari sebelas pasangan, tiga di antaranya merupakan pasangan yang belum menikah. Sedangkan delapan lainnya merupakan pasangan tunanetra yang sudah menikah tapi belum pernah menyelenggarakan syukuran. Bagi pasangan termuda, Agesta Purnama, 27, dan Oktar Mia, 25, mengikuti nikah massal sebenarnya bukan pilihan mereka. Tetapi karena dilaksanakan dengan cara yang unik, mereka pun rela jauh-jauh dari Jakarta untuk turut mengikatkan janji suci di tengah alas.

“Saya senang karena unik. Istimewanya dengan naik traktor,” kata Agesta.

Calon istrinya adalah warga Jakarta sedangkan dia asli Piyungan. Mengetahui ada nikah massal di traktor, mereka pun memutuskan menggelar pernikahan di Jogja. Lain dengan pasangan tunanetra Suparjo dan Tukiyah. Suami istri asal Kulonprogo ini telah menikah sejak pertengahan 1989. Namun karena saat itu tidak ada resepsi untuk memeriahkan pernikahan, mereka pun bertekad mengikuti nikah massal ini.

“Saya tahu dari teman,” ucap Suparjo singkat. Pasangan ini pernah dikaruniai seorang anak namun meninggal. Atas alasan itu, mereka bertekad ingin menyegarkan hubungan di antara mereka dan berharap mendapat kebahagiaan lahir batin.

Layaknya pernikahan pada umumnya, masing-masing pasangan memiliki mahar yang telah disiapkan dari pihak panitia. Uniknya, selain berbentuk seperangkat alat salat, masing-masing pasangan juga menerima mahar berupa hasil bumi. Seperti sayur dan buah-buahan. Selain itu, panitia juga memberikan voucher bulan madu di beberapa hotel berbintang di Jogja.

Ketua panitia Nikah Bareng Jogja Istimewa yang mengangkat tema Nikah Ning Alas, Ryan Budinuryanto mengatakan, dipilih lokasi di tengah sawah dan di traktor karena dalam rangka memperingati Hari Bumi yang jatuh pada 22 April mendatang.

“Traktor simbol kemakmuran dan kerja keras. Harapannya setelah berkeluarga, mereka juga harus kerja keras mewujudkan kedaulatan pangan, minimal dari keluarga,” jelas Ryan.

Dengan cara itu, para pengantin yang mengikuti nikah massal dapat mewariskan budaya cinta lingkungan kepada anak turunnya. Selain sah secara negara dan agama, kesebelas pasangan juga dinyatakan sah menjadi agen penyelamat bumi.