Bakpia Isi Labu Kuning Kreasi Mantan TKI

Bakpia isi labu kuning kreasi anggota Kelompok Asuh Keluarga Binangun (KAKB) Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Purna Maju Lestari di Jangkaran, Temon, Kulonprogo. (Rima Sekarani/JIBI - Harian Jogja)
01 Mei 2015 14:20 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Labu kuning cukup populer setiap bulan ramadan karena kerap jadi bahan campuran kolak. Tidak hanya manis, sayuran yang sering disebut waluh itu juga kaya antioksidan sehingga berkasiat mencegah penuaan dini. Bagaimana jika dijadikan bahan isi bakpia?

Beberapa waktu lalu, telah dikisahkan inovasi pembuatan telur asin rasa soto dari para anggota Kelompok Asuh Keluarga Binangun (KAKB) Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Purna Maju Lestari di Jangkaran, Temon, Kulonprogo. Namun, ide kreatif mereka tidak hanya satu. Pada waktu yang berdekatan, mereka juga coba membuat bakpia isi labu kuning.

“Sebenarnya sama saja dengan bakpia biasa tapi isinya adonan waluh,” ungkap Sulastri, Ketua KAKB TKI Purna Maju Lestari kepada Harian Jogja, awal April lalu.

Sulastri mengatakan, sebelumnya mereka sudah pernah memproduksi bakpia isi kacang hijau sejak tahun 2013. Namun, angka penjualannya terus menurun. “Mungkin karena sudah banyak yang jual. Jadi ya kami coba cari ide lain,” ucapnya.

Kebetulan, banyak petani labu kuning di sekitar Jangkaran. Rata-rata adalah lansia yang ingin tetap bekerja untuk mengisi hari tua.

“Biayanya memang murah. Merawatnya juga lebih mudah dibanding tanaman lain. Jadi banyak orang-orang tua yang menanam,” ujar perempuan yang pernah bekerja sebagai pengasuh anak di Singapura pada tahun 1996-1998 itu.

Sayangnya, harga labu kuning saat panen sangat rendah, sekitar Rp2.000 per buah. Keinginan mengangkat potensi lokal pun muncul. “Kami bikin bakpianya lancar, itu juga membantu petani waluh,” katanya.

Sementara itu, pendamping KAKB TKI Purna Maju Lestari, Dwi Purnami mengungkapkan, ayahnya juga salah satu lansia yang jadi petani labu kuning.

“Sudah pensiun tapi masih ingin kerja. Sekali panen bisa sampai menghasilkan lima ton,” kata pekerja sosial yang akrap disapa Nami itu.

Nami menceritakan, saat ayahnya mulai memanen labu kuning sekitar tahun 2009 lalu, satu buah labu kuning yang beratnya mencapai empat sampai lima kilogram (kg) bahkan hanya dihargai Rp1.000. Tiga tahun kemudian, ada tengkulak yang membeli seharga Rp1.000 per kg. “Itu udah agak lumayan. Mereka beli buat campuran pembuatan saos,” ujarnya.

Sebelum resep bakpia isi labu kuning lahir, kelompok TKI purna yang dia dampingi sempat berniat mengembangkan usaha cake labu kuning. “Tapi waktu itu tidak dilanjutkan karena hasilnya tidak maksimal,” lanjutnya.

Saat ini pemasaran dan promosi produk bakpia isi labu kuning masih terbatas melalui pameran yang diselenggarakan pemerintah. Namun, menurut Sulastri, respon konsumen cukup bagus. Meski baru sebulan, sudah banyak pesanan datang.

“Satu kemasan ini 14 bakpia harganya Rp15.000,” ucap warga Dusun Ngentak, Jangkaran tersebut.