PERIKANAN GUNUNGKIDUL : Cegah Kepunahan Lobster, Nur Rajin Lubangi Tong

Nur Wahyudin sedang melubangi tong tong plastik untuk budi daya lobster di Pantai Sepanjang, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, Jumat (18/4/2015). (JIBI/Harian Jogja - David Kurniawan)
05 Mei 2015 02:20 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Perikanan Gunungkidul, kebijakan Menteri Susi diakali Nur Wahyudin dengan melakukan budidaya lobster memanfaatkan media yang ada di sekitar.

Harianjogja.com, GUUNUNGKIDUL-Keberadaan lobster yang semakin jarang membuat Nur Wahyudin, nelayan di Gunungkidul, tergerak membudidayakannya. Berkat kegigihan itu, dia mendapatkan beberapa penghargaan nasional.

Bagi sebagian nelayan, kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, yang membatasi penangkapan lobster, kepiting dan rajungan menjadi sebuah aturan yang memberatkan. Namun, bagi Nur Wahyudin, langkah tersebut harus diapresiasi karena merupakan upaya menjaga kelestarian hewan laut itu.

Sejak enam tahun lalu, pria tamatan salah satu sekolah tinggi ilmu ekonomi di Kota Jogja itu mulai petualangannya sebagai pembudidaya lobster. Penangkaran tak hanya lewat pembuatan kolam, tapi juga memanfaatkan celah-celah karang di Pantai Sepanjang, Tanjungsari, Gunungkidul.

Prores budidaya disebutnya tidak terlalu susah. Sebab, hanya dibutuhkan media tong plastik ukuran 30 liter, sebagai rumah lobster. Langkah pertama, tong tersebut dilubangi sebagai ventilasi dan agar tong bisa terendam dalam air. Setiap tong bisa digunakan untuk memelihara dua lobster. Namun agar lobster tidak saling memakan, tong diberi sekat sehingga menjadi dua bagian.

“Agar tidak hanyut terbawa arus harus dikasih pemberat dengan menggunakan cor beton buatan. Selain itu, antara satu tong dengan tong lain saling diikatkan,” ujar bapak satu anak ini.

Dia mengaku, pelestarian lobster dengan media bunga karang laut ini bermula dari bentuk keprihatinannya atas tangkapan nelayan yang terus menurun tiap tahun. Setelah panen raya di akhir 90-an, penangkapan lobster makin masif. Meski masih menggunakan peralatan tradisional, penangkapan dilakukan sekenanya, tanpa memperhitungkan apakah hewan itu sedang bertelur atau masih kecil.

“Pasca-kerusuhan 98, lobster menjadi harapan baru bagi nelayan, karena harganya terus merangkak naik. Tak hanya nelayan, mereka yang di darat ikut memburu hewan itu,” tutur dia, Sabtu (17/4/2015).

Menurut Nur, makin langkanya lobster belum sepenuhnya disadari oleh nelayan. Mereka masih beranggapan minimnya tangkapan disebabkan adanya siklus 10 tahunan, yakni setiap satu dasawarsa, lobster akan mengalami puncak panen.

“Kalau memang 10 tahunan, harusnya pada 2008-2009 lalu panen besar-besaran. Tetapi, tidak ada tanda-tanda peningkatan,” keluhnya.

Kondisi inilah yang menggerakan Nur untuk memulai membudidayakan lobster di kawasan pantai. Awalnya ia hanya bisa menggunakan 15 tong plastik sebagai media penangkaran. Namun saat ini sudah berkembang menjadi 120 tong dengan kapasitas budidaya mencapai 70 kilogram lobster.

“Saya juga sedang bekerja sama dengan Balai Budidaya dari Bali untuk pelestarian di kawasan pantai. Di sana [Bali] hanya budidaya di kolam,” tutur dia.

Menurut Nur, budidaya lobster di kawasan pantai memiliki keunggulan dibandingkankan dengan pembudidayaan di kolam. Setidaknya, budidaya ini lebih alami dan pemilik tidak harus mengecek kondisi air.

Nur pun mendukung Peraturan Menteri Kelautan No.1/2015 tentang Pembatasan Penangkapan Lobster, Kepiting dan Rajungan.

“Kebijakan ini, seperti pelarangan penangkapan ikan hias menggunakan potasium. Awalnya memang pahit, tapi kalau bisa berhasil, hasilnya seperti ini, ikan dengan mudah didapatkan,” katanya lagi.

Pembatasan penangkapan, tidak hanya sebatas pada ukuran, tapi juga menyasar pada lobster yang sedang betelur. Namun, kata Nur, nelayan Gunungkidul tidak perlu khawatir, karena Nur siap memberikan bantuan, dengan cara melakukan pemeliharaan hingga telur itu menetas.

“Paling lama dibutuhkan waktu 20 hari agar menetas, setelah itu bisa dijual,” ungkap suami Siti Wijayanti itu.

Pemeliharaan lobster bertelur sudah berhasil dia praktikan. Malah Nur sempat mendapatkan penawaran dari nelayan Pacitan yang ingin membeli 70 kilogram lobster bertelur dengan harga Rp150 per kilogram. Nanti setelah menetas, lobster-lobster akan dibeli lagi dengan harga Rp250.000 per kilogram.

“Saya terpaksa menolaknya karena keterbatasan tempat pemeliharaan,” ujar dia.

Berkat kegigihannya melestarikan lobster dengan media bunga karang, Nur mendapatkan beberapa penghargaan nasional, seperti Pemuda Pelopor Nasional Bidang Kelautan Kebaharian pada 2012 lalu. Setahun berikutnya, ia juga menyabet penghargaan gelar teknologi tepat guna di Padang, Sumatera Barat.