KISAH INSPIRATIF : Demi Mimpi Menjadi Sastrawan, Slamet Tinggal di Dapur Sekolah

Slamet, siswa SMP Negeri 2 Sewon, Bantul, terpaksa tinggal di sekolah lantaran tak punya rumah, Rabu (6/5/2015). (JIBI/Harian Jogja - Bhekti Suryani)
08 Mei 2015 19:20 WIB Bhekti Suryani Bantul Share :

Kisah inspiratif berikut datang dari siswa kelas 1 SMPN 2 Sewon. Meski tunanetra dan ditinggal orang tua, Slamet tetap optimis menapak masa depan.

Harianjogja.com, BANTUL-Remaja kelas I SMP ini harus tidur di sekolah lantaran tidak punya rumah untuk ditinggali. Ia tunanetra yang ditinggalkan orang tua, namun mengantongi sejumlah prestasi hingga tingkat nasional.

Ruangan di salah satu sudut SMP Negeri 2 Sewon, Bantul, itu hanya seluas enam meter persegi, menyatu dengan dapur sekolah yang disekat jadi dua menggunakan lemari kayu. Satu ruang untuk dapur dan satu lagi untuk kamar tidur. Di kamar berisi kasur, bantal, lemari, dan kipas angin inilah, Slamet, 16, tinggal.

Sudah tiga bulan ia menghuni bangunan yang berada tepat di tengah gedung sekolah itu. Ia pindah dari indekosnya di Dusun Pandes, Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul lantaran tidak mampu membayar sewa.

“Waktu itu saya sudah kehabisan biaya untuk bayar kos dan untuk hidup, saya sudah bilang ke sekolah mau putus sekolah saja karena tidak ada biaya,” ungkap Slamet mengisahkan perjalanan hidupnya kala disambangi di kamarnya, Rabu (6/5/2015).

Beruntung, salah seorang gurunya berbaik hati pada Slamet. Guru itu mengupayakan izin ke sekolah agar Slamet dapat menempati sebagian ruangan dapur menjadi kamarnya. Sekolah inklusi itu bahkan memberinya uang saku setiap bulan senilai Rp500.000 untuk biaya hidup.

“Rp300.000 diberikan ke Pak Jumiran yang setiap hari memasak makanan, Rp200.000 untuk keperluan saya lainnya seperti jajan dan cuci pakaian,” ujar remaja kelahiran Oktober 1998 itu.

Sejak 2013 lalu, Slamet tidak lagi menerima uang dari orang tuanya. Ia bahkan kini tidak tahu keberadaan keluarganya. Semula keluarganya tinggal di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Ayah dan ibu tirinya bekerja sebagai penampung barang bekas dari pemulung. Ibu kandungnya tak pernah ia kenal. Ketika Slamet masih kecil, ia ditinggal pergi ibunya.

Memasuki usia sekolah dasar (SD), ia dikirim orang tuanya ke sebuah yayasan khusus tunanetra di Pojok Benteng, Kota Jogja, sekaligus sekolah di sana. Sejak saat itu hingga sekarang, orang tuanya tidak pernah menjenguk remaja berambut ikal itu. Bila butuh uang untuk hidup, Slamet kecil yang tidak dapat melihat, harus bolak-balik Jogja Muntilan mengambil uang ke ayahnya. Namun mulai 2013, aliran uang terputus lantaran tempat tinggal keluarganya sudah tak diketahui.

Ia bertahan hidup dengan uang tabungan hasil memenangi sejumlah perlombaan, hingga ia melanjutkan pendidikannya ke SMP Negeri 2 Sewon dengan cara mencari info sekolah inklusi melalui Internet. Saat itu, tentu saja tabunganya belum habis.

Sejak SD Slamet terkenal berprestasi. Pada 2011 ia memenangi lomba catur tingkat DIY, setahun berikutnya ia menggondol trofi juara lomba cerdas cermat mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tingkat DIY. Lalu pada 2013 ia menjurai lomba tenis meja khusus difabel tingkat DIY hingga nasional dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional. Setelah duduk di bangku SMP, ia kembali menjuarai tenis meja tingkat DIY. Slamet kini tengah giat berlatih untuk bertarung ke tingkat nasional pada Juni mendatang di Bandung, Jawa Barat.

Siswa berprestasi itu juga mencintai sastra. Ia bercita-cita menjadi sastrawan. Slamet kerap membaca novel yang ia unduh di Internet dan ia dengar ceritanya lewat aplikasi penerjemah teks menjadi suara di telepon genggam miliknya. Novel kreasi Kho Ping Hoo adalah salah satu karya sastra yang ia suka.

“Novel itu menceritakan lelaki peranakan Tiongkok, ceritanya bermuatan filsafat, politik, dan psikologis. Dari dulu saya ingin jadi penulis. Kalau menulis tidak perlu harus melihat banyak benda seperti ahli bidang IPA,” tutur dia.

Slamet memimpikan masa depan cerah. Ia sangat ingin meneruskan pendidikannya minimal ke tingkat SMA. Namun ia tak lagi berharap belas kasih orang tuanya.

“Kalau mereka [keluarga] sadar, mereka pasti akan menemui saya dan minta maaf. Tetapi kalau mereka enggak sadar, meski saya mengemis minta pertolongan percuma saja, yang saya pikirkan sekarang hanyalah masa depan, bagaimana saya bisa bertahan hidup,” katanya.

Guru Bahasa Inggris Slamet, Nurohman, mengungkapkan kekagumannya pada muridnya.

“Dia pintar Bahasa Inggris, bahkan mengalahkan siswa lain yang bukan difabel. Itu salah satu kelebihan dia,” ungkap Nurohman.