SPMB Jateng 2026 Resmi Dibuka, Daya Tampung Baru 40 Persen
SPMB Jateng 2026 resmi diluncurkan. Daya tampung SMA/SMK negeri hanya 40 persen, gubernur tegaskan tak ada titip-menitip.
Salah satu sudut pagar besi di Jalan Malioboro. (Gilang Jiwana/JIBI/Harian Jogja)
Pagar besi Malioboro menuai kritik dari warga
Harianjogja.com, JOGJA- Sebulan terakhir Malioboro dihiasi ornamen baru. Bukan patung atau karya instalasi seperti yang pernah dipasang beberapa waktu lalu, melainkan deretan pagar besi berwarna merah.
Pagar besi itu ditata memanjang dari ujung utara jalan Malioboro hingga Titik Nol. Saat pertama kali dipasang 26 Desember lalu pagar itu berada di kedua sisi jalan. Namun belakangan pagar itu dipusatkan di sisi barat jalan, membatasi jalur pejalan kaki dan andong dengan jalan raya.
Jarak antara satu pagar dengan yang lainnya saling berimpitan dan hanya ada celah di setiap jalur zebra cross dan pintu masuk ke instansi. Mau tak mau masyarakat yang ingin menyeberang pun harus bejalan memutari pagar.
Meskipun sedikit merepotkan, salah satu pengunjung kawasan Malioboro Arif Syamsudin, 28, beberapa waktu lalu menilai langkah ini mampu memaksa pejalan kaki untuk tertib saat menyeberang. Selain itu dia menilai keberadaan pagar ini juga cukup efektif membuat Malioboro tampak lebih rapi walaupun sepintas malah terlihat kaku.
“Kalau dibandingkan yang sudah dipagari dan belum kan kelihatan lebih rapi. Tapi kesannya memang jadi kaku soalnya seperti dipenjara karena bentuk pagarnya,” ujar dia.
Satu titik yang paling banyak disorot adalah area di depan Gedung Agung. Di sepanjang trotoar yang ada di depan Istana Negara itu pagar besi menutup rapat area trotoar, hanya menyisakan sedikit celah di pertemuan antara ujung pagar besi dan pagar Gedung Agung.
Pemasangan ini membuat area landai yang ditujukan bagi pengguna kursi roda dan jalur khusus bertonjolan bagi pengguna tunanetra tertutup. Para penyandang disabilitas yang ingin melintas akhirnya hanya bisa melintas lewat trotoar di sisi timur jalan yang masih dipadati pedagang kaki lima.
Berdasarkan Pantauan Harian Jogja sejak pagar besi dipasang melingkar di area trotoar, area itu tak lagi seramai biasanya. Namun di saat tertentu masih banyak pengunjung yang memanfaatkan area di dalam kepungan pagar untuk duduk-duduk dan berfoto dengan beberapa ornamen di sekitarnya.
Menariknya, sejak dipasang pagar tak ada lagi pedagang sate atau pecel yang biasa menggelar dagangan di area itu. Pengunjung Malioboro pun lebih leluasa duduk-duduk di bangku yang dulu seringkali digunakan pedagang untuk meletakkan barang dagangannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
SPMB Jateng 2026 resmi diluncurkan. Daya tampung SMA/SMK negeri hanya 40 persen, gubernur tegaskan tak ada titip-menitip.
3 pelaku pembacokan pelajar di SMAN 3 Jogja ditangkap di Cilacap. Polisi masih memburu 3 pelaku lain terkait konflik geng.
Dua kakak beradik tewas dalam kecelakaan melibatkan dua truk di Ngawi. Polisi masih selidiki identitas kendaraan.
Polres Bantul perketat patroli malam untuk tekan klitih dan kejahatan jalanan. Orang tua diminta awasi anak sebelum jam 22.00 WIB.
Imigrasi Tangerang tangkap 19 WNA pelaku love scamming di apartemen Teluknaga, diduga sindikat internasional dari Kamboja.
Nadiem Makarim dituntut 18 tahun dalam kasus Chromebook. Kuasa hukum optimistis bebas, pleidoi dijadwalkan awal Juni.