PERTANIAN KULONPROGO : Sentra Benih Padi Organik Segera Dibangun

Kemarau 2015 yang berkepanjangan membuat sebagian petani di Jawa Timur terlambat menanam padi. Musim tanam padi yang pada waktu lalu berlangsung pada Oktober kini berlaku mundur, tanam padi baru dilakukan sebagian pelaku pertanian Jatim pada Desember ini karena faktor cuaca. Kantor Berita Antara, Kamis (17/12/2015), mendokumentasikan petani kawasan Candi, Sidoarjo, Jawa Timur yang baru menyiapkan bibit padi untuk ditanam. (JIBI/Solopos/Antara - Umarul Faruq)
11 Februari 2016 13:54 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Pertanian Kulonprogo saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan bibit padi organik untuk petani setempat

Harianjogja.com, KULONPROGO- Kulonprogo mulai tertari untuk pengadaan sentra benih padi unggul organik. Diperkirakan, pengadaan sentra benih ini akan mampu mencukupi kebutuhan benih di Kulonprogo serta menjadi komoditas baru bagi petani setempat.

Hingga saat ini, Kulonprogo hanya mampu mencukupi kebutuhan benihnya hingga 30% dari total kebutuhan yang mencapai 600 ton per tahun. Terkait hal ini, Organisasi Gerakan Petani Nusantara (GPN) bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten (pemkab) Kulonprogo tertarik membangun sentra benih sebagai solusi permasalahan tersebut.

Wakil Ketua Umum GPN, Sukabiwata menyatakan bahwa pengadaan sentra benih ini selain akan mampu memenuhi kebutuhan benih lokal juga akan menjadi komoditas yang memiliki daya jual tinggi. Adapun benih yang dimaksud merupakan jenis MSP yang diklaim sebagai benih organik yang tahan penyakit tanaman, memiliki produktivitas yang tinggi, dan kompetitif di pasaran.

Lebih lanjut, ia juga menyatakan optimis bahwa jenis benih tersebut akan cocok pada jenis tanah di Kulonprogo. Pasalnya, ada 18 jenis benih yang bisa disesuaikan dengan jenis tanah tiap daerah. “Cocok untuk jenis tanah apa saja, bahkan air asin,” ujar Sukabiwata, di Sekretariat Daerah (Sekda) Kulonprogo pada Rabu (10/2/2016).

Ia menambahkan bahwa daya jual hasil produksi benih jenis ini sangat tinggi, mencapai harga Rp12.000-14.000 per kilogram dengan daya jual hingga ke luar negeri. Karena keunggulannya inilah, maka kemudian dibutuhkan benih yang lebih banyak untuk mencukupi kebutuhan pasar.

GPN juga menawarkan kerjasama dengan sistem sewa lahan. Nantinya, petani Kulonprogo akan dilibatkan dalam proses penanamannya sedangkan untuk pengelolaannya akan dilakukan oleh GPN. Karena itu pula, GPN bersedia membeli hasil panen tersebut sesuai dengan MOU.

Sukabiwata juga menguraikan bahwa jika hasilnya memuaskan maka terbuka kemungkinan jika para petani Kulonprogo menanam jenis benih ini secara mandiri. “Jika cocok bisa tanam sendiri,” jelasnya. Terlebih lagi, menurutnya pasar padi jenis ini juga sangat terbuka di berbagai daerah.

Ia menyebutkan bahwa pemkab Kulonprogo menjanjikan untuk mencarikan lahan yang sesuai. “Hasilnya nanti minggu depan,” katanya.

Meski belum bisa menyebutkan daerah spesifik di mana lahan tersebut berada, ia menjelaskan bahwa luas lahan yang dibutuhkan minimal 14 hektar hingga 40 hektar.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Kulonprogo, Bambang Tri Budi menyatakan bahwa pihaknya siap untuk mencarikan lahan yang sesuai dengan kebutuhan sentra benih ini. Selain itu, pemkab Kulonprogo juga akan melakukan pengawasan untuk memastikan bahwa tidak ada kerugian yang diderita oleh petani Kulonprogo.