WISATA JOGJA : DIY Butuh Badan Promosi Pariwisata

JIBI/Desi SuryantoSejumlah wisatawan berfoto dibawah papan nama Jalan Malioboro, Yogyakarta, Jumat (27/12 - 2013). Daya pikat Malioboro sebagai tujuan wisata memang tidak bisa surut meski di saat liburan sejumlah ruas jalan menuju kawasan belanja itu macet akibat tak mampu menampung banyaknya kendaraan yang melintas.
16 Februari 2016 21:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Wisata Jogja butuh Badan Promosi

Harianjogja.com, JOGJA-Kalangan pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengeluh karena hingga kini Jogja sebagai satu provinsi yang dikenal dengan destinasi wisatanya ini belum memiliki Badan Promosi Pariwisata.

Di antara lima kabupaten/kota yang ada, baru Sleman dan Jogja yang memiliki badan yang fokus pada promosi pariwisata ini.

Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY menilai badan promosi ini sangat diperlukan dalam melakukan branding dan promosi wisata di suatu daerah.

Selama ini promosi wisata dilakukan sebatas kerjasama antara Asita, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY dan juga Dinas Pariwisata. Namun upaya ini tidak maksimal karena bagaimana pun juga tugas masing-masing pihak tersebut tidak hanya promosi pariwisata.

“Dinas Pariwisata branding, stakeholder selling. Tapi kan dinas juga kerjanya banyak jadi tidak bisa fokus [pada promosi],” ungkap Ketua Asita DIY periode 2015-2019, Udhi Sudiyanto, Senin (15/2/2016).

Menurut Udhi, Badan Promosi Pariwisata sangat diperlukan karena dapat menangani promosi secara independen. Ketika upaya promosi pariwisata dilakukan secara tidak independen, upaya untuk branding akan semakin terkendala. "Kita sebagai pelaku, kita itu jualan. Sementara kalau badan promosi itu untuk branding maka butuh yang independen," tegasnya lagi.

Ia berharap, pihak yang mengisi struktural Badan Promosi Pariwisata ini nantinya adalah orang yang menguasai dunia marketing tetapi juga konsen terhadap pariwisata.

Dicontohkan oleh Udhi adalah konsultan pariwisata yang berorientasi pada how to sell (bagaimana caranya menjual). Orang-orang seperti ini, kata Udhi, ketika ada destinasi yang tidak beres, mereka langsung dapat mengkoordinasikan kepada pengelola objek pariwisata untuk dilakukan perbaikan. Saat ini, beberapa provinsi yang telah memiliki Badan Promosi Pariwisata di antaranya Jawa Tengah, Bali, dan Kalimantan Selatan.