Hari Pertama Kerja Bupati Gunungkidul, Apa yang Dilakukan?

Bupati Gunungkidul Badingah saat menandatangi dokumen serah terima jabatan dari Pejabat Bupati Budi Antono di Bangsal Sewokoprojo, Kamis (18/2/2016). (David Kurniawan/JIBI - Harian Jogja)
19 Februari 2016 09:55 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Hari pertama kerja Bupati Gunungkidul Badingah diisi dengan penataan di ruang kerjanya

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Hari pertama kerja pasangan Bupati-Wakil Bupati terlantik Badingah-Immawan Wahyudi diisi dengan kegiatan serah terima jabatan dengan Pejabat Bupati Gunungkidul Budi Antono. Usai kegiatan ini dilanjutkan dengan acara sarasehan dan open house di Rumah Dinas Bupati, Kamis (18/2/2016).

Ratusan pejabat struktural pemkab dan kepala desa se-Gunungkidul nampak hadir dalam prosesi serah terima jabatan. Nampak hadir pula dalam acara itu, Anggota DPRD dan Anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Gunungkidul.

Bupati Gunungkidul Badingah mengakui hari pertama kerja masih sebatas formalitas untuk serah terima jabatan dengan Pejabat Bupati. Acara selanjutnya akan dilakukan sarasehan dan open house di Rumah Dinas Bupati. “Acaranya masih dalam suasana pelantikan dan belum mengarah ke kinerja pemerintahan,” kata Badingah, kemarin.

Untuk hari ini, Badingah mengaku sudah akan berkantor. Namun aktivitas yang dilakukan masih sebatas bersih-bersih dan melakukan penataan di ruang kerjanya. “Saya tetap akan masuk meski harinya tergolong pendek,” ujarnya.

Rencananya Senin (22/2/2016) mendatang akan memulai apel perdana dengan pegawai Pemkab Gunungkidul saat menjabat sebagai Bupati terpilih periode 2016-2021. “Roda pemerintahan akan tetap jalan dan untuk sekarang [kemarin] koordinasi kerja antar Satuan Kerja Perangkat Daerah [SKPD] dipimpin Sekretaris Daerah,” ujarnya.

Badingah menambahkan, pasca-pelantikan akan mulai menerjemahkan visi misi saat berkampanye dalam program kerja selama lima tahun ke depan. Rencananya dalam waktu dekat akan melakukan koordinasi untuk menyinkronkan antara visi misi dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. “Itu yang akan menjadi patokan kinerja kami, dan kami tidak bisa keluar dari rencana tersebut,” kata isteri almarhum Wasito Dono Saroyo ini.

Disinggung mengenai program seratus hari kerja pertama, Badingah mengaku tidak menargetkan apapun. Ia menilai jangka waktu itu sangat pendek dan tidak bisa menjadi tolok ukur kepemimpinan lima tahun ke depan.

“Seratus hari itu hanya tiga bulan. Padahal untuk bertani saja di waktu itu belum tentu panen, apalagi urusan pemerintahan. Untuk membangun fisik juga harus ada proses dan tidak bisa selesai dalam jangka waktu tersebut,” katanya.

Sementara itu, mantan Pejabat Bupati Gunungkidul Budi Antono berharap agar ritme kerja yang telah terbangun selama ini terus dipertahankan. Hal itu bertujuan untuk meneruskan torehan yang telah dihasilkan selama ini.

“Memang masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai, sehingga dibutuhkan komitmen semua pihak untuk menyelesaikan sejumlah pekerjaan. Salah satunya untuk mencapai target WTP,” ujar Budi.

Dia pun berpesan, untuk mendukung pencapaian target tersebut harus disesuaikan dengan kondisi terkini. Pegawai tidak boleh santai-santai karena semua harus serba cepat sehingga tidak ketinggalan dengan daerah lain.

“Berpikir itu boleh, tapi jangan lama-lama dan harus segera diambil tindakan. Wong yang sudah cepat masih butuh percepatan, apalagi yang lambat harus bekerja lebih cepat,” katanya.