Advertisement

The Ground of Fire, Pameran Lutfi Yanuar di Bantul

Kiki Luqman
Sabtu, 14 Februari 2026 - 12:47 WIB
Sunartono
The Ground of Fire, Pameran Lutfi Yanuar di Bantul Lutfi Yanuar sedang memasang karya drawingnya yang menggunakan abu vulkanik untuk persiapan pembukaan pameran tunggalnya pada 14 Februari. Dok pribadi

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL—Seniman asal Bandung, Lutfi Yanuar, menghadirkan pameran tunggal bertajuk The Ground of Fire di Redbase Foundation Art Space, Bangunharjo, Sewon, Bantul. Pameran ini menjadi refleksi atas relasi manusia, sejarah, dan dinamika geologi yang membentuk lanskap kehidupan.

The Ground of Fire berlangsung mulai 14 Februari hingga 14 April 2026. Pembukaan dijadwalkan pada 14 Februari pukul 16.00 WIB, disusul tur seniman sekitar 30 menit setelah seremoni pembukaan.

Advertisement

Lutfi Yanuar, Jumat (13/2/2026), menjelaskan bahwa pameran tunggal ketiganya tersebut berangkat dari perenungan atas naluri kolektif manusia untuk bertahan hidup di tengah perubahan sejarah dan geologi. Ia memaknai lanskap bukan sekadar ruang fisik, melainkan medan pertemuan antara ingatan sosial dan proses alam yang terus bergerak.

Melalui medium lukisan, drawing, serta instalasi site-specific, Lutfi mengajak publik melihat manusia sebagai bagian dari siklus alam, bukan entitas yang berdiri di atasnya. Karya-karya tersebut lahir dari pengamatan terhadap fragmen kehidupan sehari-hari di Bandung yang dipadukan dengan arsip sejarah dan material geologis.

Salah satu pijakan historis yang menginspirasi pameran ini adalah peristiwa Bandung Lautan Api. Bagi Lutfi, peristiwa tersebut merepresentasikan daya tahan kolektif masyarakat dalam mempertahankan kehidupan di tengah krisis.

Selain merujuk pada sejarah, Lutfi juga menggunakan material abu vulkanik Gunung Tangkuban Perahu pascaerupsi 2019 sebagai elemen artistik. Ia memandang abu vulkanik bukan sekadar residu bencana, melainkan bagian dari siklus alam yang terus memperbarui kehidupan. Konteks geologis Sesar Lembang pun ia singgung sebagai pengingat bahwa manusia hidup di atas tanah yang rapuh dan dinamis.

Dalam pameran ini, lima lukisan ditampilkan sebagai representasi potongan kehidupan masyarakat Bandung. Figur manusia dihadirkan tanpa identitas personal.
“Figur tersebut menegaskan manusia sebagai satu spesies yang terintegrasi dengan alam, bukan sebagai pusat dari segala hal,” ujarnya.

Motif floral yang terinspirasi konsep Kalpataru atau pohon kehidupan menjadi elemen visual penting dalam lukisan tersebut. Material serbuk marmer dan pasir dimanfaatkan untuk menciptakan tekstur taktil yang membumi, sementara tinta yang meluruh serta teknik sulaman dimaknai sebagai simbol keterhubungan ekologis antara manusia dan lingkungan.

Tak hanya lukisan, pameran ini juga menampilkan 24 karya drawing yang diproduksi selama masa residensi. Drawing tersebut menjadi ruang eksplorasi gagasan melalui pendekatan historis dan geologis, tanpa merekonstruksi sejarah secara naratif, melainkan mengekstraksi semangat kolektif masyarakat dalam menghadapi krisis.

“Dalam peristiwa Bandung Lautan Api, masyarakat memilih membakar kotanya, mengungsi, lalu kembali membangun kehidupan. Spirit itu menunjukkan bahwa ketahanan hidup lahir dari kemampuan beradaptasi,” katanya.

Ia menambahkan, sejarah terbentuknya Bandung tidak terlepas dari dinamika alam dan sosial. Kota itu lahir dari letusan purba, dipengaruhi kolonialisme, dipertahankan melalui strategi bumi hangus, hingga terus mengalami pembangunan kembali. Menurutnya, dinamika tersebut relevan dengan kondisi masa kini ketika manusia kerap menganggap tanah yang dipijak stabil, padahal rentan berubah sewaktu-waktu.

Sebagai karya penutup, Lutfi menghadirkan instalasi site-specific berjudul No One at the Center, Only the Cycle. Instalasi ini memanfaatkan campuran endapan abu vulkanik Gunung Tangkuban Perahu dengan tanah lokal serta benih palawija dari sekitar lokasi residensi.

Dalam proses penciptaannya, tubuh Lutfi dicetak di atas permukaan abu, lalu ditaburi benih yang dibiarkan tumbuh alami. Proses sedimentasi dan pertumbuhan menjadi bagian integral dari karya, sementara jejak tubuh yang tertinggal dimaknai sebagai metafora kehadiran manusia yang dikenang melalui ketiadaannya.

“Karya ini berupaya menggeser persepsi tentang posisi manusia, dari pusat menuju bagian dari siklus. Ketahanan hidup tidak lahir dari dominasi, melainkan dari pemahaman terhadap cara kerja siklus alam,” kata Lutfi.

Lutfi dikenal sebagai seniman yang menggabungkan tekstur material alami dengan narasi historis dan geologis dalam praktik berkaryanya. Seniman kelahiran 1994 ini merupakan lulusan seni rupa Institut Teknologi Bandung pada 2017 dan telah terlibat dalam sejumlah pameran penting.

Di antaranya Bandung Painting Today di Grey Art Gallery pada 2024, Manifesto VIII di Galeri Nasional Indonesia pada 2022, serta ajang internasional the 9th Beijing International Art Biennale di National Art Museum of China pada tahun yang sama. Karyanya juga tampil dalam Art Jakarta dan Art Moment periode 2022–2023, serta mengantarkannya menjadi finalis Barli Award dan UOB Painting of the Year pada 2019.

Melalui The Ground of Fire di Redbase Foundation Art Space Bantul, Lutfi berharap publik dapat merefleksikan kembali relasi manusia dan lingkungan. Baginya, pemahaman atas siklus alam menjadi fondasi penting untuk membaca sejarah, merespons krisis, dan membayangkan masa depan yang lebih adaptif di tengah perubahan yang terus berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Hamas Minta TNI Netral jika Indonesia ke Gaza

Hamas Minta TNI Netral jika Indonesia ke Gaza

News
| Sabtu, 14 Februari 2026, 13:57 WIB

Advertisement

Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan

Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan

Wisata
| Rabu, 11 Februari 2026, 21:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement