KISAH SUKSES : Dari Anak Penyadap Karet, Kini Jadi Komisaris BPR

Rachmad Ali. (Bernadheta dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
22 Februari 2016 11:55 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Kisah sukses Rachmad Ali berawal saat ia memtuskan sekolah dengan biaya sendiri

Harianjogja.com, SLEMAN-Nama Rachmad Ali seperti tak asing lagi di telinga bankir di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bahkan sosoknya di mata Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X dianggap sebagai 'Bankir Rakyat' karena selain sebagai cikal bakal pendiri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di DIY, pelayanan BPR-nya sebagian besar untuk mengangkat harkat martabat pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jogja.

Ali, begitu sapaan akrab pemilik BPR Danagung Ramulti ini awalnya pernah merintis karier sebagai sekretaris direksi salah satu media cetak di Jogja. Atas ketekunannya belajar administrasi dan keuangan, ia pernah dipercaya menjadi Kepala Bagian Tata Usaha dan Pengembangan Pemasaran hingga menjabat sebagai komisaris selama dua periode.

Tepat pada 1991 usai pensiun dari kantor media cetak tersebut, Ali mulai berputar otak untuk tetap mengembangkan kariernya di hari tua. Latar belakang sebagai anak penyadap karet di Sumatera Barat membuat dirinya ingin hidup lebih layak dibandingkan orang tuanya yang dikenal sebagai warga paling miskin di kampungnya.

"Setelah tanya sana-sini sampailah ada orang yang bilang suruh buka BPR maka saya ikuti. Kebetulan dari relasi dengan direktur paling tidak tahu tentang keuangan," kata Ali, Sabtu (20/2/2016).

Hanya berbekal Rp50 juta, Ali pun mulai memberikan kredit kepada para pedagang kecil di pasar. Uang itu juga masih terpotong untuk membayar uang sewa kantor. Waktu itu, kata Ali, kredit yang diberikan kepada pedagang terbilang kecil. "Rp1 juta itu sudah sangat besar," kata pria kelahiran Abai, Sangir Batanghari Solok Selatan, Sumatera Barat, 15 Agustus 1948 lalu.

Bagi bapak tiga anak ini, tujuan mendirikan BPR tak lain untuk membantu pembiayaan usaha bagi pedagang-pedagang kecil. "Senangnya kita jadi bisa bantu kembangkan usaha karena usaha kecil itu kalau masuk [kredit] bank umum tidak mudah. BPR sangat strategis apalagi usaha kecil di Jogja lebih mendominasi," ungkapnya di kantornya di Kalasan, Sleman.

Berkat ketekunan dan ketelatenan menyasar pedagang-pedagang di pasar tradisional, BPR Danagung Ramulti semakin berkembang. Asetnya makin bertambah hingga Ali bisa membeli lahan sendiri untuk kantornya.

Bahkan 1996, ia mengembangkan BPR lainnya yang langsung dipimpin oleh ketiga putra-putrinya. Muncul BPR Danagung Bakti yang dipimpin putra pertamanya Tedy Alamshah. BPR Danagung Abadi oleh Janti Kusuma, dan BPR Danagung Syariah oleh si bungsu Irma Kustandari. Ketiga kantor tersebut beroperasi di Jogja. Sementara pengembangan lainnya di Klaten yakni BPR Klaten Sejahtera diperyakan pada pihak lain.

Berawal dari modal Rp50 juta, kini BPR Danagung Groub sudah memiliki aset Rp524 miliar dengan lebih dari 100.000 nasabah. Sementara pertumbuhan per tahunnya sekitar 15%. Suami dari Suhartini ini mengatakan hampir 100% kredit diberikan untuk pengusaha mikro. "Kami ingin mereka berkembang," ungkapnya.

Seperti halnya Ali yang berkembang dan ingin terus maju sejak kecil. Dari hidup berkekurangan sebagai keluarga penyadap karet, sempat merantau ke kota lain untuk belajar, menjadi pembantu rumah tangga, hingga akhirnya memutuskan sekolah di Jogja dengan biaya sendiri.

Saat ini Ali yang menjabat sebagai komisaris di perusahaan miliknya itu ingin agar ketiga putra-putri dan juga 500 karyawannya memiliki jiwa pekerja keras dan menyukai tantangan.