Tenaga Kesehatan Perlu Memiliki Keterampilan Kedaruratan Persalinan

Perawatan bayi kembar siam asal Ponorogo. (JIBI/Solopos/Antara - Laily Widya)
22 Februari 2016 12:19 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Tenaga kesehatan perlu memiliki ketrampilan kedaruratan persalinan

Harianjogja.com, SLEMAN-Tenaga kesehatan perlu memiliki ketrampilan dalam mengatasi persoalan kedaruratan yang terjadi pada proses persalinan.

DekanĀ Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Respati Yogyakarta (FIKES UNRIYO) Muhammad Judha pada Rabu (17/2/2016) menjelaskan bahwa, kemampuan kinerja tenaga kesehatan berdampak langsung pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.

Maka, sebagai upaya untuk mencetak tenaga kesehatan yang memiliki kualitas tinggi dalam mengatasi persoalan kedaruratan, maka FIKES UNRIYO menggelar Pelatihan Penanganan Gawat Darurat Obstetri dan Neonatal (PPGDON).

Hal lain yang mendasari diselenggarakannya pelatihan ini yakni diketahui dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 40 per 1.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Neonatus (AKN) adalah sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup.

Muhammad Judha menambahkan, pelaksanaan pelatihan ini sejalan dengan visi universitas, yaitu menjadi program studi unggulan dan terpercaya untuk menghasilkan sarjana terapan bidan pendidik profesional yang mampu bersaing di tingkat nasional pada 2019.

"Pelatihan ini bekerja sama dengan Jakarta Medical Service & Training 119 dan akan diselenggarakan secara rutin setiap tahun. Materi pelatihan meliputi penanganan kegawat daruratan Eklamsi, Aspeksi Neonatus, serta penangannya lainnya yang lebih dari 30 kegawat daruratan lainnya," ungkapnya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Minggu (21/2/2016).

Pada sesi terakhir pelatihan, peserta pelatihan yang sebanyak 195 orang juga mengikuti Simulasi Disaster Management, dengan materi penanganan kecelakaan massal korban ibu hamil dan balita. Dalam simulasi ini UNRIYO menjadi tempat penanganan sementara, rumah sakit lapangan dan rumah sakit rujukan.

Pelatihan tersebut diselenggarakan selama 10 hari mulai 10 Februari hingga 21 Februari 2016, di kompleks kampus II UNRIYO Jl. Tajem Km 1,5 Maguwoharjo, Depok, Sleman.