HARGA KEBUTUHAN POKOK : Stok Sapi Potong Kurang, Harga Daging Sapi Terpaksa Naik

Pengumunan kenaikan harga daging sapi per 18 Februari 2016 sebesar Rp6.000 per kg di Pasar Beringharjo, Jogja, Selasa (23/2/2016). (Kusnul Isti Qomah/JIBI - Harian Jogja)
24 Februari 2016 12:55 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harga kebutuhan pokok berupa daging sapi naik.

Harianjogja.com, JOGJA-Data pantauan harga bahan pangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) menunjukkan, harga rata-rata daging sapi sebesar Rp118.000 per kg. Untuk daging sapi kualitas II, harga rata-ratanya sebesar Rp112.000 per kg, dan kualitas ketiga sebesar Rp106.333 per kg.

Ketua PPDSS Ilham Akhmadi mengungkapkan, kenaikan harga itu dilakukan karena ketersediaan sapi potong berkurang sehingga antara permintaan dan ketersediaan tidak seimbang.

“Cari sapi siap potong di pasar hewan semakin menyusut. Kalau enggak menaikkan harga, pemotong dan penjagal merugi,” kata dia, Selasa (23/2/2016)

Ia mengakui, kenaikan harga akan membuat pembeli berkurang. Kondisi ini dinilai dilematis. Di satu sisi, penjualan berkurang, di sisi lain akan merugi jika tidak menaikkan harga.

“Ini dilematis. Daya beli masyarakat turun sekitar 30 persen hingga 40 persen. Sekarang, banyak bakso yang dicampur ayam, masakan katering yang berbahan dasar daging sapi juga berkurang,” kata dia.

Ilham menyebutkan, solusi yang harus dipikirkan adalah membuat pasokan sapi tetap lancar. Hal itu memerlukan proses panjang dan harus didukung oleh semua pihak termasuk Pemerintah. “Pemerintah harus ada data. Perbaiki indukan dan evaluasi program. Ayo kita kerja bareng,” ujar dia.

Kepala Dinas Pertanian DIY Sasongko mengungkapkan, untuk stok sapi di DIY cukup aman. Jumlahnya besar namun termasuk anakan sapi. Peternak di DIY beternak dengan skala kecil. Rata-rata hanya memiliki tiga hingga lima ekor sapi. “Tidak semua petani menjual sapinya untuk dipotong. Kalau belum butuh uang belum dijual,” jelas dia.

Ia menyebutkan, kesulitan mendapatkan sapi potong bukan karena jumlah populasi yang berkurang.  Saat ini ada sekitar 340.000 ekor sapi di DIY di mana di dalamnya termasuk pedet (anakan sapi). Saat ini, justru ada kecenderungan peternak untuk menggemukkan sapi peliharaannya karena stok pakan yang mudah. “Nanti, saat pakan susah, mereka akan menjualnya,” ungkap dia.