Wisata dan Industri Ringan Perlu Terus Dimaksimalkan

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM A Tony Prasetiantono PhD ketika memberikan materi dalam FGD Mendulang Optimisme: Menggali Sektor-sektor yang Potensial di Tengah Fluktuasi Ekonomi di Hotel Neo Awana, Jogja, Senin (29/2/2016). (Joenalis/JIBI - Harian Jogja)
29 Februari 2016 21:20 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Wisata dan industri ringan DIY memiliki peluang besar.

Harianjogja.com, JOGJA—Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki produk unggulan di bidang pariwisata yang masih bisa dimaksmalkan. Potensi tersebut mampu mendorong pertumbuhan ekonomi DIY dalam empat hingga lima tahun ke depan.

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM A Tony Prasetiantono mengatakan, potensi pariwisata di DIY belum optimal dalam pengembangannya.  Hal itu tercermin dari kunjungan wisatawan asing ke DIY yang hanya 200.000 per tahun.

“Atau mungkin malah kurang. Mesin penggerak wisata itu adalah Tiongkok. Kita harus tarik itu. Hotel, kita sudah cukup,” ujar dia ketika ditemui usai Focus Group Discussion Mendulang Optimisme: Menggali Sektor-sektor yang Potensial di Tengah Fluktuasi Ekonomi. Kegiatan hasil kerja sama antara Harian Jogja dan Bank Mandiri itu digelar di Hotel Neo+ Awana, Jogja, Senin (29/2/2016).

Hal itu bisa diwujudkan dengan adanya bandara yang memungkinkan penerbangan langsung dari luar negeri. Selain itu,Gubernur DIY harus melobi investor-investor untuk menanamkan modalnya di DIY untuk menambah atraksi atau wahana yang menjadi tujuan wisata. Hal itu akan menambah pilihan destinasi wisata. DIY merupakan daerah yang lengkap di mana ada gunung, budaya, kraton, hingga pantai. Semua itu menjadi potensi yang bisa dikembangkan lebih jauh lagi.

“DIY dalam beberapa hal mirip dengan Bali tetapi penggarapannya belum maksimal. Paling tidak, kita harus bisa membuat wisatawan asing memperpanjang masa tinggal minimal tiga hari,” ungkap dia.

Kemudian, sektor yang bisa didorong adalah industrialisasi dengan tetap menjaga pertanian. Daya serap tenaga kerja di pertanian yang semakin kecil harus dikelola secara modern. Artinya, harus ada transformasi dan hal itu akan menjadi masa depan DIY.

Ia menjelaskan, pengembangan industrialisasi yang dimaksudkan adalah light industry atau industri ringan. Contohnya, industri tekstil, sepatu, alas kaki, serta industri kreatif yang banyak dijumpai di DIY. Oleh karena itu, kepala-kepala daerah harus gesit mencari peluang investasi  untuk mengembangkan UMKM yang ada di DIY.

Ia mengatakan, saat ini posisi rupiah tengah menguat. Alasannya, terjadi aliran modal yang masuk sebesar Rp3,7 triliun dalam waktu satu minggu.

"Saat ini, Indonesia berada dalam jalur yang tepat karena ada kebijakan untuk membangun  infrastruktur," papar dia.

Ia memperkirakan, pada 2016 kondisi ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,1% hingga 5,2%. Nilai tukar rupiah dipercaya akan menguat menjadi Rp13.000 hingga Rp13.500 per USD. Inflasi diperkirakan akan lebih tinggi menjadi 4,5% karena gairah ekonomi lebih baik. Kondisi ekonomi di Indonesia sedang baik sehingga ia merekomendasikan suku bunga BI bisa diturunkan kembali menjadi 6,75%.