PENDIDIKAN GUNUNGKIDUL : SMA Swasta di Pinggiran Sepi Peminat

Siswa SMK Negeri 2 Solo mengerjakan soal menggunakan komputer saat mengikuti Ujian Nasional (UN) hari pertama berbasis komputer atau Computer Based Test (CBT) di SMK Negeri 2 Solo, Senin (13/4). Pelaksanaan UN CBT untuk siswa SMA/SMK sederajat di Kota Solo pada hari pertama berjalan lancar tanpa ada gangguan tekhnis. (JIBI/Solopos - Reza Fitriyanto)
24 Mei 2016 17:55 WIB Gunungkidul Share :

Pendidikan Gunungkidul menghadapi masalah minimnya peminat di sekolah pinggiran

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL -- Minat siswa SMP untuk melanjutkan sekolah ke SMA masih sangat minim.

Penyebabnya siswa di Gunungkidul lebih banyak menjatuhkan pilihannya ke SMK karena keinginan untuk bekerja setelah lulus sekolah lebih besar ketimbang melanjutkan ke perguruan tinggi.

Salah satu sekolah yang merasakan dampak dari kurangnya minat siswa terhadap SMA ialah SMA Muhammadiyah Wonosari.

Selama beberapa tahun jumlah siswa yang mendaftar masih belum sesuai dengan harapan, karena mayoritas siswa smp memilih SMA Negeri, SMK, atau bahkan tak melanjut sekolah. Hal tersebut menjadi hal yang cukup meresahkan karena setiap tahun muncul kekhawatiran akan kehilangan murid.

Wakil Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah Wonosari, Paryana mengungkapkan hal tersebut telah menjadi persoalan sejak beberapa tahun yang lalu. Kekhawatiran akan tidak adanya murid yang mendaftar terus muncul setiap ajaran baru dimulai.

Namun pihaknya tak tinggal diam, berbagai upaya dilakukan diantaranya dengan melakukan jemput bola. Sebagian sekolah di kecamatan Gunungkidul telah disisir dan disasar untuk menawarkan agar bersekolah di SMA yang ia ampu.

"Setiap tahun kami datangi sekolah sampai rumah-rumah siswa SMP untuk mengajak mereka bersekolah di SMA ini," kata dia, Senin (23/5/2016).

Metode yang digunakan yakni dengan menyebarkan angket minat. Angket tersebut kemudian diisi oleh siswa untuk mengetahui apakah minat mereka melanjutkan ke SMK/ SMA/ bekerja.

Setelah mendapatkan data, akan dilakukan penyisihan data. Pihak sekolah akan memfollow up siswa yang berminat bersekolah di SMA.

Paryana menuturkan, bahwa selama ini diketahuinya bahwa minat siswa SMP masih kecil untuk bersekolah di SMA, terlebih SMA Swasta. Kalaupun memilih SMA, Apabila nilai siswa baik pasti akan lebih memilih SMA negeri. Pada penerimaan murid baru pada tahun 2015 lalu tak mencapai target tiga kelas yang tersedia.

"Tahun kemarin hanya 60an siswa saja. Setiap kelas cuma terisi 20 siswa. Padahal target kami paling tidak 70 siswa untuk mengisi tiga kelas," kata dia.

Jumlah siswa yang mendaftar pada tahun lalu tersebut dirasa lebih mending dibandingkan penerimaan dua tahun lalu. Miris, hanya sekitar 25 siswa yang bertahan di kelas 11 saat ini. Paryana mengakui peminat sangat sedikit sekali di SMA Swasta. Untuk itu pihaknya terus berupaya untuk meyakinkan calon siswanya agar mau melanjutkan ke SMA. Untuk ke depannya, SMA pun tak harus melanjutkan ke perguruan tinggi, karena dari SMA juga dapat bekerja.

Ia berharap pemerintah dapat terus memberikan pemahaman kepada anak-anak usia sekolah agar mau melanjutkan jenjang sekolah. Karena sepanjang proses survey yang pihaknya lakukan masih banyak anak yang usai SMP tidak melanjutkan ke jenjang Menengah atas dikarenakan kendala ekonomi keluarga.

"Anak anak jangan berhenti 9 tahun belajar, tapi lanjutkan minimal 12 tahun. Untuk mengikuti program pemerintah juga," ungkapnya.