KISAH INSPIRATIF : Kisah Maskur, Satu-satunya Pembuat Busur Panah di Sleman

Maskur Asyhari warga Plumbon Lor, Mororejo, Tempel memamerkan kerajinan busur panah dalam Pameran Potensi Daerah (PPD) di Lapangan Denggung, Sleman yang berlangsung hingga Minggu (29/5/2016) mendatang. (Abdul Hamied Razak/JIBI - Harian Jogja)
27 Mei 2016 13:20 WIB Holy Kartika Nurwigati Sleman Share :

Kisah inspiratif datang dari Maskur, seorang perajin busur panah di Sleman

Harianjogja.com, SLEMAN - Berawal dari sebuah hobi, Maskur Asyhari dapat menambah penghasilan bagi keluarganya. Pria asal Plumbon Lor, Mororejo, Tempel ini menjadi satu-satunya perajin busur panah di Sleman yang ditampilkan pada Pameran Potensi Daerah (PPD) di Lapangan Denggung, Sleman.

Pria yang kesehariaanya menjadi sales kacamata ini bercerita, awal mulanya bergelut menjadi perajin busur panah karena didasari hobi. Usaha yang digelutinya saat ini dimulai sejak dua tahun lalu.

"Awalnya hanya iseng. Saya saat itu membawa busur panah hand made, bikinan saya ke latihan rutin panahan," cerita Hari saat ditemui di stan PPD yang digelar memperingati Satu Abad Kabupaten Sleman itu.

Saat beberapa orang melakukan latihan, dia melanjutkan, ada salah satu orang yang menghampirinya. Setelah melihat-lihat sejenak, orang itu pun tertarik untuk dibuatkan busur jenis recurve.

Dari sanalah, dia mulai memutar otaknya untuk lebih serius menggeluti kerajinan itu. "Saya pun mencoba untuk memproduksi busur panah," kata Hari.

Lanjut ke Halaman 2


Hari mengaku, dia mampu memproduksi sembilan macam jenis busur panah. Beberapa di antaranya untuk kelas profesional seperti jenis recurve yang dibagi menjadi take down bow, classic, american classic bow, dan jenis compound bow serta tradisional seperti horsebow, snake horsebow, dan gendewa jemparingan.

Dari segi harga, produksi busur panah milik Hari relatif terjangkau. Dia mematok harga berkisar antara Rp250.000 hingga Rp1 juta. "Harga saya tentukan berdasarkan tingkat kerumitan dan material yang digunakan," katanya.

Busur jenis compound menurut Hari saat ini paling banyak diminati para penghobi maupun atlit panahan. Sementara jenis compound, menurutnya, belum ada yang memproduksi di Indonesia. Sebab bahannya dari material besi dan dilengkapi dengan roda untuk mengatur tali.

"Jika di luar harganya paling murah dijual Rp3 juta. Tapi saya hanya menjualnya Rp1 juta saja," ungkap produsen busur panah Omega Archery itu.

Selain berjualan secara manual, Hari juga aktif menjajakan karyanya melalui promosi online. Berbekal promosi melalui media sosial tersebut, banyak pelanggan yang membeli karya Hari.

Bahkan para pelanggannya justru datang dari luar daerah. Mulai dari para penghobi, sekolahan maupun klub panah seperti Bekasi, Bogor, Purwokerto, Jember, hingga Papua.

Saat ini Hari hanya mampu memproduksi dua busur panah saja untuk setiap pekannya. Menurutnya, jumlah tersebut masih bisa ditingkatkan jika dia memiliki sarana dan prasarana yang memadai.

Sedikitnya busur panah yang dia produksi, disebabkan selama ini proses produksinya masih menggunakan alat manual. "Selain masih menggunakan peralatan manual, saya hanya dibantu oleh satu orang asisten saja," ucapnya.

Meski begitu, Hari tak patah semangat. Dia tetap meyakini jika kerajinan yang digelutinya akan mendapat banyak perhatian dari para penghobi panah. Salah satu keyakinannya dikarenakan saat ini hanya segelintir orang saja yang menggeluti bidang ini.

Ke depan Hari berencana membuat busur panah jenis riser yang berbahan almunium. “Untuk pelanggan lokal saya baru melayani satu orang saja. Pelanggan saya kebanyakan dari luar daerah. Ke depan saya berharap bisnis ini dapat tumbuh dengan baik," dia berharap.